BI Buka Suara soal Rupiah Ambruk hingga Rp17.500 per Dolar AS
Bank Indonesia (BI) buka suara soal pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan rupiah melemah lantaran perang di Timur Tengah yang masih berlangsung. Hal itu mendorong naiknya harga minyak mentah dunia.
"Tekanan Rupiah dalam hari ini meningkat karena di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat, mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, bila merujuk faktor pelemahan dari domestik, Destry mengatakan rupiah lesu karena meningkatnya kebutuhan dolar AS secara musiman, salah satunya untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN).
Selain itu, pembayaran dividen serta kebutuhan untuk ibadah haji juga mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Ia mengatakan BI berkomitmen selalu berada di pasar dengan melakukan intervensi terarah, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF).
Destry mengatakan bank sentral juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter, sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada Rupiah.
Saat ini, ia menyebut BI juga melihat kepercayaan investor asing di aset portfolio terus membaik, yang tercermin dari inflows khususnya ke pasar SBN dan SRBI selama April sebesar Rp61,6 triliun.
Ia mengatakan ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas di akhir Maret mencapai 10,9 persen year-to-date (ytd).
"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda, sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," ujar Destry.
Rupiah berada di level Rp17.529 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5) sore. Mata uang Garuda melemah 115 poin atau 0,66 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang kompak berada di zona merah terhadap dolar AS. Peso Filipina melemah 0,57 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,25 persen.
Selanjutnya ada dolar Singapura turun 0,35 persen, yen Jepang melemah 0,27 persen, won Korea Selatan anjlok 1,18 persen, serta dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Sementara itu, yuan China menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat setelah naik 0,02 persen terhadap dolar AS.
Mata uang utama negara maju juga mayoritas melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,31 persen, poundsterling Inggris melemah 0,71 persen, dolar Australia terkoreksi 0,44 persen, dolar Kanada turun 0,20 persen, serta franc Swiss melemah 0,32 persen.
(dhz/sfr) Add
as a preferred source on Google