Harga Minyak Naik ke US$106 per Barel Imbas Ketegangan Timteng Memanas
Harga minyak dunia kembali naik pada perdagangan Jumat (24/4) pagi setelah meningkatnya kekhawatiran eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Sentimen pasar dipicu oleh aksi Iran di Selat Hormuz serta laporan keterlibatan sistem pertahanan udara terhadap target yang dianggap ancaman.
Mengutip Reuters, harga kontrak minyak Brent naik US$1,23 atau 1,17 persen menjadi US$106,3 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,07 atau 1,12 persen ke level US$96,92 per barel.
Kenaikan ini melanjutkan tren sehari sebelumnya, di mana kedua acuan harga minyak tersebut ditutup melonjak lebih dari 3 persen. Bahkan, harga sempat melesat hingga US$5 per barel setelah muncul laporan adanya aktivitas militer di Teheran serta ketegangan internal di Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi semakin memanas setelah Iran merilis video yang menunjukkan pasukan komando menaiki kapal kargo di Selat Hormuz. Aksi tersebut menegaskan kontrol Iran atas jalur strategis tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran kemungkinan telah memperkuat persenjataannya selama masa gencatan senjata dua pekan terakhir. Meski demikian, ia menegaskan bahwa militer AS mampu melumpuhkan kekuatan tersebut dalam waktu singkat.
Ketidakpastian arah negosiasi damai antara AS dan Iran turut memperkuat sentimen kenaikan harga minyak.
Laporan Haitong Futures menyebut fase gencatan senjata saat ini berpotensi menjadi masa persiapan menuju konflik baru jika pembicaraan tidak mencapai kemajuan signifikan.
"Fase gencatan senjata saat ini semakin terlihat seperti fase persiapan menuju perang. Jika pembicaraan AS-Iran tidak menunjukkan kemajuan hingga akhir April dan pertempuran kembali terjadi, harga minyak bisa naik ke level tertinggi baru tahun ini," tulis Haitong Futures dalam laporannya.
Risiko pasokan juga meningkat seiring potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz. Kondisi ini berpotensi menekan keseimbangan pasar energi global dalam waktu dekat.
Analis China Futures, Mingyu Gao, menyatakan gangguan distribusi minyak dapat memperketat pasokan global.
"Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat mendorong persediaan minyak global turun di bawah rata-rata musiman 5 tahun, sehingga menambah premi risiko pada harga minyak," ujarnya.
Di sisi lain, Trump menegaskan tidak akan menetapkan batas waktu untuk tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. "Jangan terburu-buru," katanya saat ditanya berapa lama ia bersedia menunggu kesepakatan damai jangka panjang.
as a preferred source on Google