FAO Waspadai Bencana Pangan Global Imbas Gangguan di Selat Hormuz
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperingatkan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi memicu bencana pangan global, seiring terganggunya pengiriman energi dan pupuk yang krusial bagi produksi pertanian.
Melansir Anadolu Agency (AA), FAO menyebut keterlambatan pasokan kebutuhan pertanian dapat menekan hasil panen, serta mendorong kenaikan harga pangan hingga 2027.
Ekonom Kepala FAO, Maximo Torero, mengingatkan dampak krisis ini paling besar akan dirasakan negara-negara miskin yang rentan terhadap lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu terus berjalan," ujar Torero, menekankan waktu yang semakin sempit untuk mencegah dampak lebih luas.
Ia menjelaskan, kalender tanam di banyak negara membuat sektor pertanian sangat sensitif terhadap gangguan pasokan pupuk dan energi. Jika distribusi tidak segera pulih, produktivitas pertanian berisiko menurun signifikan.
FAO menilai kondisi ini dapat mendorong lonjakan inflasi pangan pada tahun depan, yang pada akhirnya memaksa pemerintah melakukan intervensi harga di dalam negeri. Langkah tersebut berpotensi berdampak lebih luas terhadap suku bunga dan pertumbuhan ekonomi global.
Kepala Divisi Ekonomi Agrifood FAO, David Laborde, mengatakan dunia saat ini sudah berada dalam krisis input pertanian.
"Kita sudah berada dalam 'krisis pasokan input'," ujarnya, seraya mengingatkan agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi bencana global.
FAO juga mencatat sekitar 20 hingga 45 persen ekspor input agrifood global masih bergantung pada jalur laut melalui Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dinilai berdampak besar terhadap stabilitas pasokan global.
Selain itu, pasar pupuk dan energi disebut bersifat tidak elastis, sehingga gangguan kecil pada volume perdagangan dapat memicu lonjakan harga yang tajam.
FAO memperingatkan risiko saat ini bahkan bisa melampaui krisis pada 2022, terutama jika diperparah oleh fenomena El Nino yang kuat.
Meski indeks harga pangan global pada Maret masih relatif stabil karena pasokan yang cukup, FAO melihat tekanan mulai meningkat pada April dan diperkirakan akan semakin kuat pada Mei. Hal ini seiring keputusan petani terkait pola tanam yang sangat bergantung pada ketersediaan pupuk dan tingginya harga energi.
Lembaga tersebut pun mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menghindari pembatasan ekspor energi dan pupuk, serta meninjau kembali kebijakan biofuel yang berpotensi memperketat pasokan pangan.
Lembaga tersebut juga mendorong pemanfaatan pembiayaan multilateral, termasuk fasilitas dari International Monetary Fund, guna membantu negara rentan mengamankan pasokan pupuk tanpa memicu persaingan subsidi.
FAO menekankan pemulihan arus distribusi melalui Selat Hormuz menjadi kunci untuk mencegah krisis yang lebih dalam di sektor pangan global.
as a preferred source on Google
