Lonjakan Harga Emas, Antam Akui Ada Pengaruh Fomo dan Ulah Calo

CNN Indonesia
Jumat, 10 Apr 2026 16:03 WIB
Antam mengungkapkan dalam periode yang lebih sempit, harga emas sudah meningkat signifikan sekitar 50 persen.
Antam mengungkapkan dalam periode yang lebih sempit, harga emas sudah meningkat signifikan sekitar 50 persen. (FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengakui fenomena fear of missing out (FOMO) hingga praktik percaloan turut mendorong lonjakan harga emas hingga 150 persen di pasar, terutama dalam beberapa waktu terakhir.

Direktur Komersial PT Antam Handi Sutanto mengatakan kenaikan harga emas sebenarnya sudah terjadi dalam tren jangka panjang. Kalau dalam periode yang lebih sempit, harga emas juga meningkat signifikan sekitar 50 persen.

"Jadi memang emas ini kalau kita lihat 5 tahun terakhir, harganya itu naik kurang lebih 150 persen. Awalnya mungkin gampangnya periode Covid, nah itu naik mulai trendnya sangat kuat. Lalu kalau kita lihat time frame lebih sempit, 2 tahun terakhir itu harga naik kurang lebih 50 persen," ujar Handi dalam News Hour CNN TV, Jumat (10/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Handi, narasi yang menyebut harga emas Antam digoreng tidak sepenuhnya tepat. Ia menyebut kondisi saat ini merupakan kombinasi antara daya tarik emas sebagai instrumen investasi dan perilaku masyarakat yang FOMO.

"Nah terkait dengan harga Antam yang diberitakan digoreng, lalu kemudian narasi banyak beredar, kami memantau orang dalam. Sebetulnya yang terjadi adalah campuran antara bukti bahwa emas itu menarik sebagai instrumen investasi, yang kemudian masuk juga orang-orang yang FOMO," jelasnya.

Ia mengungkapkan, masyarakat yang takut ketinggalan momentum kenaikan harga cenderung membeli emas secara agresif, sehingga memunculkan unsur spekulasi di pasar.

[Gambas:Youtube]

Handi menegaskan Antam hanya mengendalikan harga di pasar primer, yakni harga resmi yang diumumkan setiap hari melalui situs perusahaan. Sementara harga di pasar sekunder berada di luar kewenangan Antam karena diatur oleh Kementerian Perdagangan.

Oleh sebab itu, Handi mengingatkan masyarakat agar tidak membeli emas jika selisih harga dengan harga resmi Antam terlalu tinggi, karena hal tersebut mengindikasikan praktik percaloan.

"Cuma yang kita lihat dan kita selalu edukasi kepada masyarakat, janganlah FOMO. Ketika harga resmi Antam dibandingkan harga tempat Anda mau beli, itu terpaut 10 persen, 20 persen, 30 persen. Lebih baik tidak usah beli. Lebih baik kita tunggu harga yang benar, karena itu adalah clear bagi kami praktik percaloan, yang kita mesti perangi bersama. Itu yang terjadi," terangnya.

Di sisi lain, Handi memastikan pergerakan harga emas Antam secara umum sejalan dengan harga emas dunia. Ia menyebut sekitar 99,99 persen pergerakan harga menunjukkan korelasi atau co-movement.

Namun demikian, ia mengakui terdapat kondisi ekstrem yang dapat memicu volatilitas tinggi dalam jangka pendek, seperti yang terjadi saat periode Lebaran.

"Karena kalau emas itu kan sejati permainan yang sifatnya jangka menengah, maupun jangka panjang. Jadi untuk sentimen-sentimen yang jangka pendek, perlu kita hati-hati mengirimkan sinyal kepada publik," pungkasnya.

(ldy/ins) Add as a preferred
source on Google