Kemenkeu Ungkap Strategi Industri Rokok "Akali" Pembelian Pita Cukai
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengungkap adanya dinamika penerimaan cukai hasil tembakau pada awal tahun, terutama terkait strategi pelaku industri dalam pembelian pita cukai.
"Kalau untuk dari sisi cukai hasil tembakau itu ada dinamika, mereka boleh menunda pembelian dari pita cukai. Itu mereka gunakan. Tetapi nanti untuk beberapa bulan ke depan kita lihat ini trennya sudah membaik," ujar Febrio di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat, Kamis (9/4).
Ia menjelaskan kondisi tersebut turut memengaruhi realisasi penerimaan negara pada kuartal I-2026 yang baru mencerminkan data hingga Maret. Menurutnya, pola ini bukan hal baru karena pelaku industri kerap memanfaatkan fleksibilitas waktu pembelian pita cukai untuk mengatur arus kas dan produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi data kemarin yang kita tunjukkan untuk Q1 itu kan sampai Maret ya. Nanti di April ini sebenarnya sudah ada data ini akan membaik, lebih baik dibandingkan yang bulan-bulan sebelumnya," ujar dia.
Febrio menambahkan tren perbaikan tersebut mulai terlihat seiring masuknya periode baru setelah penundaan pembelian pita cukai. Dengan demikian, penerimaan negara dari sektor ini diperkirakan akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Selain cukai, ia juga menyinggung penerimaan dari sektor kepabeanan lain yang sangat dipengaruhi kondisi global.
"Untuk bea keluar ini kan mengikuti tren perdagangan barang dan jasa internasional. Termasuk juga impor, yaitu ada bea masuk dan sebagainya," ujarnya.
Ia menegaskan meskipun terjadi fluktuasi di awal tahun, arah penerimaan tetap berada dalam jalur yang sesuai dengan target pemerintah.
"Ini masih at par (setara) dan kita melihat arah untuk bea dan cukai sesuai dengan APBN 2026 itu akan tercapai," kata Febrio lebih lanjut.
Secara keseluruhan, ia menilai dinamika penerimaan ini lebih bersifat siklus dan teknis, bukan mencerminkan pelemahan fundamental. Penundaan pembelian pita cukai di awal tahun biasanya akan diikuti oleh peningkatan realisasi pada periode berikutnya sehingga kinerja tahunan tetap terjaga.
Data Kemenkeu menunjukkan penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Februari 2026 mencapai Rp44,9 triliun atau sekitar 13,4 persen dari target APBN. Angka ini turun 14,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontribusi terbesar berasal dari cukai sebesar Rp34,4 triliun, meski mengalami penurunan 13,3 persen secara tahunan. Penurunan ini salah satunya dipengaruhi oleh mekanisme pita cukai yang memungkinkan pelaku usaha menunda pembelian dan pelekatan hingga beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, penerimaan bea keluar juga turun signifikan akibat melemahnya harga komoditas seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), sementara bea masuk justru mencatat pertumbuhan seiring peningkatan aktivitas impor.
as a preferred source on Google