Iran Peringatkan AS Harga Minyak Bakal Tembus US$200 per Barel
Iran mengumumkan kepada dunia untuk bersiap menghadapi lonjakan harga minyak ke level US$200 per barel.
Kondisi tersebut berpotensi besar terjadi seiring serangan pasukan militer Iran terhadap kapal-kapal dagang pada Rabu (11/3).
Berdasarkan unggahan Instagram dari akun @middleeasteye pada Rabu (11/3), Komando militer Iran mengatakan bahwa Amerika Serikat harus bersiap menghadapi harga minyak mencapai US$200 per barel, karena tiga kapal tengah diserang di Teluk yang diblokade.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalian tidak akan bisa menjaga harga minyak dan energi tetap rendah secara buatan melalui 'bantuan hidup' ekonomi. Sebagaimana telah kami peringatkan, jika perang meluas ke seluruh kawasan, bersiaplah harga minyak mencapai $200 per barel. Harga minyak mengikuti tingkat keamanan di kawasan ini, dan sumber ketidakamanan itu adalah kalian (AS)," tegas juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari dalam pernyataan yang ditujukan kepada Amerika Serikat.
Sebelum pernyataan tersebut dibuat, lonjakan harga minyak mentah dunia sempat mereda, seiring pernyataan Trump yang memprediksi perang akan segera berakhir.
Perang yang dipicu oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran sudah berlangsung hampir dua minggu, dan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, di mana sebagian besar merupakan warga Iran dan Lebanon. Konflik tersebut telah meluas ke Lebanon dan menjerumuskan pasar energi serta transportasi global ke dalam kekacauan.
Meskipun Pentagon menggambarkan serangan udara tersebut sebagai yang paling intens sejak dimulainya perang, Iran tetap meluncurkan serangan ke arah Israel dan target-target di seluruh Timur Tengah pada Rabu (11/3). Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mereka masih mampu memberikan perlawanan.
Kemarin (11/3), tiga kapal dilaporkan terkena serangan di perairan Teluk. Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa pasukan mereka telah menembaki kapal-kapal di Teluk yang tidak mematuhi perintah mereka.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump belum menetapkan jadwal untuk operasi militer, mengisyaratkan bahwa dia belum siap untuk mengakhiri perang Iran. "Kita tidak ingin pergi lebih awal, bukan? Kita harus menyelesaikan pekerjaan (perang) ini," ujarnya.
Trump mengklaim bahwa pasukan AS telah melumpuhkan 58 kapal angkatan laut dan memprediksi harga minyak akan turun. Namun, ABC News melaporkan bahwa FBI telah memperingatkan potensi serangan drone Iran di Pesisir Barat AS, meskipun Trump menyatakan tidak khawatir Iran akan meluncurkan serangan di tanah Amerika.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS juga memperingatkan bahwa Iran dan sekutunya berencana menargetkan infrastruktur minyak dan energi milik AS di Irak, serta mengingatkan bahwa milisi tersebut di masa lalu pernah menargetkan hotel-hotel yang sering dikunjungi warga Amerika.
Pejabat AS dan Israel menyatakan tujuan mereka adalah untuk mengakhiri kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya dan menghancurkan program nuklirnya.
Lonjakan harga minyak hampir US$120 per barel yang terjadi awal pekan belum kembali ke level stabil kisaran US$90, namun pada Rabu (11/3) kembali naik hampir 5 persen imbas kekhawatiran akan gangguan pasokan. Hal itu juga direspons dengan merosotnya indeks saham utama Wall Street merosot.
Perang ini telah menyebabkan pelabuhan dan kota-kota di negara-negara Teluk serta target di Israel terkena rentetan drone dan rudal dari Iran, yang memicu desakan dari Turki, Eropa, dan negara lainnya untuk mengakhiri pertempuran.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) merekomendasikan pelepasan cadangan strategis secara besar-besaran untuk meredam salah satu guncangan minyak terburuk sejak tahun 1970-an. Sebanyak 400 juta barel dari cadangan strategis global diminta dilepas untuk menstabilkan harga.
Usulan tersebut mendapat dukungan dari Washington, di mana Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan Trump telah mengizinkan pelepasan 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis AS mulai pekan depan. Upaya tersebut membutuhkan proses sekitar 120 hari.
(ins)