Harga Minyak Dunia Naik Gila-gilaan di Tengah Perang Iran vs AS-Israel
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/3) di tengah perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Lonjakan tersebut mendorong harga minyak mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah acuan Brent naik sekitar US$15,24 atau 16,4 persen menjadi US$107,93 per barel. Bahkan sebelumnya Brent sempat melonjak hingga US$18,35 atau 19,8 persen ke level US$111,04 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak tajam. Harga WTI naik US$16,50 atau 18,2 persen menjadi US$107,40 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$111,24 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan harga minyak yang sudah terjadi sepanjang pekan lalu. Dalam sepekan terakhir, harga Brent telah melonjak sekitar 27 persen, sedangkan WTI naik hingga 35,6 persen.
Lonjakan harga energi dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah setelah konflik militer di kawasan tersebut semakin meluas. Situasi semakin memanas setelah sejumlah produsen minyak utama di kawasan mulai memangkas produksi.
Selain itu, kekhawatiran juga muncul terkait potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia.
Sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk mulai mengambil langkah pengurangan produksi. Irak dan Kuwait dilaporkan telah mengurangi produksi minyak, sementara sebelumnya Qatar juga memangkas pasokan gas alam cair.
Para analis juga memperkirakan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi berpotensi mengikuti langkah tersebut karena kapasitas penyimpanan minyak mereka mulai mendekati batas maksimal.
Analis komoditas senior ANZ Daniel Hynes mengatakan kenaikan harga dipicu oleh laporan bahwa produsen minyak di Timur Tengah mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan yang hampir penuh.
"Langkah itu bukan hanya semakin menekan output, tetapi juga memperlambat pemulihan produksi ketika konflik mereda," ujarnya.
Di Irak, dampak konflik bahkan sudah terlihat langsung pada produksi minyak. Produksi dari ladang minyak utama di wilayah selatan dilaporkan turun hingga 70 persen menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari.
Penurunan produksi tersebut terjadi karena negara itu kesulitan mengekspor minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman energi dari kawasan Teluk.
Seorang pejabat Basra Oil Company mengatakan kapasitas penyimpanan minyak mentah di negara tersebut saat ini sudah mencapai batas maksimal.
Sementara itu, Kuwait Petroleum Corporation juga mulai mengurangi produksi sejak Sabtu (7/3) dan bahkan menetapkan status force majeure atau keadaan darurat terhadap pengiriman minyak, meskipun tidak merinci jumlah produksi yang dihentikan.
Situasi keamanan di kawasan juga semakin tidak menentu akibat serangan terhadap fasilitas energi. Kantor Media Fujairah melaporkan terjadi kebakaran di zona industri minyak Fujairah, Uni Emirat Arab, akibat jatuhan puing dari serangan di wilayah tersebut. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa.
Di tempat lain, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat sebuah drone yang menuju ladang minyak Shaybah, salah satu fasilitas energi penting di negara tersebut.
Para analis memperingatkan lonjakan harga minyak ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di berbagai negara menghadapi harga bahan bakar yang lebih mahal dalam beberapa waktu ke depan.
Gangguan produksi, hambatan logistik, serta meningkatnya risiko keamanan terhadap jalur pengiriman energi disebut dapat membuat tekanan harga bertahan selama beberapa minggu bahkan berbulan-bulan, meskipun konflik mereda dalam waktu dekat.
(del/sfr)