Bahlil Klaim Harga BBM AS Setara Timur Tengah, LPG Bahkan Lebih Murah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat (AS) tidak akan menambah kuota impor energi nasional. Begitu juga dengan harganya dipastikan mengikuti pasar.
Menurut Bahlil, kebutuhan energi Indonesia, terutama Liquified Petroleum Gas (LPG), BBM, dan minyak mentah, memang masih ditopang oleh impor karena produksi dalam negeri belum mencukupi. Rencana impor dari AS sebesar US$15 miliar atau setara Rp252,89 triliun (asumsi kurs Rp16.859 per dolar AS).
Misalnya, kebutuhan LPG dalam negeri setiap tahun sebesar 8,3 juta ton. Sementara produksi nasional hanya 1,6 juta sehingga per tahun sehingga butuh impor 7 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga impor ketiga produk senilai US$15 miliar (Rp252,89 triliun) dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Jadi tidak ada perbedaan apakah dari Middle East atau dari Amerika. Itu harganya sama, bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara yang lain," ujarnya Bahlil dalam keterangan, Minggu (1/3), yang dikutip pada Selasa (3/3).
Lihat Juga : |
Bahlil menekankan bahwa kebijakan ini tidak akan membebani negara ataupun mengganggu kedaulatan energi nasional. Sebab, volume impornya tetap sama, hanya mengalihkan asal negara impornya.
"Kita hanya mengganti saja. Jadi volume angka impornya sama, switch tempatnya aja yang berbeda. Jadi yakinlah bahwa kedaulatan bangsa ini tetap terjaga, saya tidak akan mungkin menjual bangsa sendiri," jelasnya.
Kesepakatan perdagangan energi senilai US$15 miliar tersebut tertuang dalam Reciprocal Trade Agreement (RTA) atau Agreement on Reciprocal Trade (ART). Perjanjian ini difinalisasi dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada Kamis (19/2).
Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen meningkatkan pembelian produk energi dari Amerika Serikat dengan nilai indikatif hingga sekitar US$15 miliar.
Rinciannya meliputi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) sekitar US$3,5 miliar, minyak mentah (crude oil) sekitar US$4,5 miliar, serta produk BBM olahan tertentu senilai sekitar US$7 miliar. Selain itu, kerja sama juga mencakup komoditas energi lain sesuai kebutuhan domestik, termasuk batubara metalurgi dan teknologi batubara bersih.
(ldy/pta)