Harga Minyak Masih Bertahan di Level Tertinggi, Pasar Pantau AS-Iran

CNN Indonesia
Kamis, 26 Feb 2026 11:32 WIB
Harga minyak naik ke level tertinggi 7 bulan. Pasar menanti hasil negosiasi AS-Iran di tengah risiko gangguan pasokan dan lonjakan stok minyak AS.
Harga minyak naik ke level tertinggi 7 bulan. Pasar menanti hasil negosiasi AS-Iran di tengah risiko gangguan pasokan dan lonjakan stok minyak AS. (Dok. AKR Corporindo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia naik pada Kamis (26/2) dan bertahan di dekat level tertinggi tujuh bulan terakhir. Pelaku pasar mencermati apakah perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat mencegah konflik militer yang berisiko mengganggu pasokan energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent tercatat di level US$71,12 per barel, naik 27 sen atau 0,3 persen. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 23 sen atau 0,4 persen ke US$65,65 per barel.

Sehari sebelumnya, Brent naik tipis 8 sen, sedangkan WTI turun 21 sen. Pada awal pekan, kedua kontrak sempat menyentuh level tertinggi sejak 31 Juli dan bertahan di kisaran tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penguatan harga terjadi seiring langkah Washington menempatkan kekuatan militer di Timur Tengah untuk menekan Iran agar bernegosiasi mengakhiri program nuklir dan rudal balistiknya. Pasar menilai konflik berkepanjangan dapat mengganggu pasokan dari kawasan tersebut.

Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu delegasi Iran dalam putaran ketiga perundingan di Jenewa pada Kamis. Hasil pembicaraan ini dinilai krusial bagi arah pergerakan harga minyak.

Analis Fujitomi Securities Toshitaka Tazawa mengatakan investor fokus pada kemungkinan konflik militer dapat dihindari melalui negosiasi. Menurutnya, jika konflik pecah namun bersifat terbatas dan singkat, harga WTI bisa melonjak sementara di atas US$70 sebelum kembali ke kisaran US$60-US$65 per barel.

Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Konflik yang meluas berpotensi mengganggu pasokan dari Iran maupun eksportir lain di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraannya menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Ia menyebut Iran sebagai sponsor terorisme terbesar di dunia.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan kesepakatan dengan AS "dalam jangkauan" jika diplomasi diprioritaskan. Pernyataan ini memberi harapan deeskalasi, meski ketidakpastian masih tinggi.

Arab Saudi dilaporkan meningkatkan produksi dan ekspor minyak sebagai bagian dari rencana darurat apabila serangan AS terhadap Iran mengganggu pasokan kawasan. Langkah ini disebut sebagai antisipasi risiko gangguan distribusi.

Sementara itu, aliansi OPEC+ yang mencakup anggota OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, diperkirakan mempertimbangkan kenaikan produksi sebesar 137.000 barel per hari untuk April. Pertimbangan tersebut dilakukan menjelang puncak permintaan musim panas serta untuk merespons ketegangan geopolitik.

Meski ketegangan mendukung harga, kenaikan tertahan oleh lonjakan besar persediaan minyak mentah AS. Data Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah AS naik 16 juta barel pekan lalu, tertinggi dalam tiga tahun dan jauh melampaui proyeksi analis sebesar 1,5 juta barel.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta)