Buntut Perjanjian Dagang, RI Bakal Borong BBM-LPG AS Rp253,45 T

CNN Indonesia
Jumat, 20 Feb 2026 21:42 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia akan membeli BBM dan LPG dari AS senilai US$15 miliar (Rp253,45 triliun) menyusul perjanjian dagang RI-AS.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia akan membeli BBM dan LPG dari AS senilai US$15 miliar (Rp253,45 triliun) menyusul perjanjian dagang RI-AS. (Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia akan membeli BBM dan LPG dari Amerika Serikat (AS) senilai US$15 miliar atau sekitar Rp253,45 triliun (asumsi kurs Rp16.894 per dolar AS).

Hal itu menjadi bagian dari kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah ditandatangani Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (19/2) waktu setempat.

"Di dalam perjanjian itu telah dimuat secara jelas bahwa untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, maka kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih lebih US$15 miliar. Dari US$15 miliar ini terdiri dari BBM, kemudian LPG dan crude (minyak mentah)," ujar Bahlil dalam konferensi pers yang ditayangkan secara virtual oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (20/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahlil menerangkan pembelian BBM dari AS itu bukan berarti RI menambah impor. Namun, Indonesia hanya menggeser alokasi pembelian BBM dari negara lain.

"Kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara. Di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun dari beberapa negara di Afrika," terangnya.

Ia juga memastikan pembelian tersebut akan memperhatikan mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan, baik menguntungkan dari pihak AS dan badan usahanya maupun dari pihak Indonesia.

Terkait LPG, Bahlil menerangkan Indonesia selama ini mengimpor sekitar 7 juta ton per tahun, di mana sebagian diimpor dari AS.

Dengan kesepakatan dagang itu, Indonesia akan meningkatkan volume pembelian LPG dari negeri Paman Sam.

"Begitu kami mendapatkan arahan dari Bapak Presiden Prabowo, begitu 90 hari ke depan sudah selesai, maka sudah langsung kita mulai tahapan eksekusi," ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan pihaknya melihat peluang besar untuk pemenuhan sumber energi dengan harga yang kompetitif dari AS.

Untuk LPG, misalnya, selama ini Pertamina mengimpor 57 persen kebutuhannya dari AS.

"Dengan adanya kesepakatan dagang ini, tentunya kita akan bisa meningkatkan bisa sampai ke 70 persen. Begitu juga untuk crude kita juga akan dorong untuk peningkatan, sementara untuk produk (BBM) kita akan terus penjajakan dengan mitra-mitra dari Amerika Serikat," ujarnya.

Simon juga memastikan seluruh proses akan dilakukan secara terbuka untuk menjamin mematuhi peraturan yang ada.

"Perjanjian kerja sama (dagang) ini adalah untuk win-win, untuk kebaikan dan kemajuan kedua negara. Dengan demikian, kedua negara sangat menghormati peraturan atau regulasi yang berlaku di masing-masing yang ada," ujarnya.

Selanjutnya, Pertamina akan menunggu finalisasi kesepakatan dagang itu dalam 90 hari ke depan. Simon berharap prosesnya akan berjalan dengan baik dan menguntungkan kedua belah pihak.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)