Bahlil Ungkap Sosok Berani di Balik Hilirisasi Nikel RI
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap sosok hebat dan berani di balik kebijakan hilirisasi nikel, yang saat ini memberikan manfaat besar bagi perekonomian Indonesia.
Ia mengatakan sosok hebat tersebut adalah Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.
Bahlil bercerita saat dulu menjabat Menteri Investasi/Kepala BKPM, ia dipanggil oleh Presiden Ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan Luhut yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sana, ia disemprot karena kinerja ekspor dalam negeri sangat minim, padahal sumber daya mineral sangat besar. Kemudian, Luhut langsung memerintahkannya untuk memberhentikan ekspor barang mentah nikel.
"Sama Opung, Pak Luhut Menko saya, hebat beliau. 'Lil, kau bisa nggak stop itu ekspor ore nikel?'. Saya bilang, Opung itu kan bukan tanggung jawab saya, itu Menteri ESDM yang punya kewenangan itu, kan aturannya di sana. Dia bilang, kau ini adalah orang yang mengepalai investasi, kita ingin untuk investasi masuk," kata Bahlil dalam Kuliah Umum di Hotel Borobudur, Kamis (12/2).
Lihat Juga : |
Merespons perintah tersebut, Bahlil mengaku langsung menyusun aturannya dan membuahkan hasil sangat positif bagi perekonomian dalam negeri sampai saat ini.
"Kalau perintah, saya lakukan. Saya putuskan, baru 4 hari jadi anggota kabinet, melarang ekspor ore nikel," tegasnya.
Kebijakan tersebut, kata Bahlil, membuat ia sendiri tekor hingga US$7,5 juta, yang kalau dirupiahkan sekitar Rp126 miliar (kurs Rp16.838). Sebab, kala itu perusahaan miliknya baru akan melakukan ekspor ore nikel 500 ribu ton, tapi gagal karena kebijakan yang ia keluarkan sendiri demi bangsa.
"Di saat bersamaan, perusahaan saya dulu ada 500 ribu ton ada di pelabuhan. Coba bayangkan, saya stop! Untungnya waktu itu US$15 per ton, kali 500 ribu ton, ya (tekor) US$7,5 juta," katanya.
Begitu pemerintah memutuskan untuk memberhentikan ekspor bijih nikel dan proses hilirisasi dimulai, Bahlil menyebut pemasukan dalam negeri melonjak. Dari kinerja ekspor nikel hanya US$3,3 miliar pada 2019 meningkat tajam menjadi US$33 miliar - US$34 miliar pada 2024.
"Dan itulah kemudian diintervensi sehingga daerah-daerah yang tadinya pertumbuhan ekonominya rendah itu menjadi tinggi. Maluku Utara itu pertumbuhan ekonomi sempat mencapai 24-30 persen. Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan jadi daerah-daerah penghasil komoditas yang dibangun industrialisasinya itu tinggi. Dan itulah penciptaan lapangan kerja," pungkasnya.
(ldy/pta)