Melihat Harta Karun Greenland yang Bikin Trump Ngebet Ingin Caplok

CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 13:40 WIB
Greenland punya harta karun mineral langka yang kini menjadi rebutan kekuatan besar dunia, yang menjadi komponen kunci dalam teknologi modern.
Greenland punya harta karun mineral langka yang kini menjadi rebutan kekuatan besar dunia, yang menjadi komponen kunci dalam teknologi modern. (Foto: AFP/ODD ANDERSEN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketertarikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menguasai Greenland bukan semata soal wilayah atau posisi militernya di Kutub Utara.

Di balik itu, tersimpan harta karun mineral langka yang kini menjadi rebutan kekuatan besar dunia, yakni rare earth atau mineral tanah jarang.

Trump secara terbuka pernah menyebut AS membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional. Pernyataan itu menguatkan dugaan bahwa sumber daya alam Greenland, khususnya mineral kritis, telah menjadi bagian dari strategi geopolitik dan ekonomi Washington.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir berbagai sumber, Greenland juga menyimpan beragam sumber daya alam lain, mulai dari bijih besi, grafit, tungsten, palladium, vanadium, seng, emas, uranium, tembaga, hingga minyak.

Namun, yang paling menyita perhatian global adalah cadangan rare earth elements (REEs) atau mineral tanah jarang, yang menjadi komponen kunci dalam teknologi modern, mulai dari ponsel pintar, baterai kendaraan listrik, turbin angin, radar militer, hingga sistem pertahanan.

Berdasarkan berbagai kajian geologi internasional, Greenland menempati peringkat ke-8 dunia untuk cadangan rare earth, dengan estimasi mencapai 1,5 juta ton.

Pulau Es itu juga memiliki dua deposit rare earth yang potensi geologisnya jauh lebih besar ketimbang cadangan feasible 1,5 juta ton, bahkan berpotensi menjadi yang terbesar di dunia, yakni Kvanefjeld dan Tanbreez, yang sama-sama terletak di bagian selatan Greenland.

Deposit Kvanefjeld tercatat sebagai salah satu deposit darat terbesar rare earth di dunia, dengan lebih dari 11 juta ton cadangan dan sumber daya, termasuk sekitar 370 ribu ton heavy rare earth, jenis mineral tanah jarang yang nilainya jauh lebih mahal karena perannya vital dalam teknologi tinggi. Kadar bijihnya mencapai sekitar 1,43 persen, jauh di atas rata-rata proyek rare earth global.

Sementara itu, Tanbreez bahkan diperkirakan menyimpan hingga 28,2 juta ton mineral rare earth, dengan sekitar 27 persen di antaranya merupakan heavy rare earth. Meski kadar bijihnya lebih rendah, nilai ekonominya tetap besar karena kandungan mineral strategisnya yang tinggi.

Ironisnya, hingga kini belum ada satu pun tambang rare earth yang benar-benar beroperasi di Greenland. Tantangan utamanya terletak pada iklim ekstrem, keterbatasan infrastruktur, serta isu lingkungan dan sosial.

Hanya sekitar 20 persen wilayah Greenland yang bebas es, dengan suhu bisa mencapai di bawah minus 40 derajat Celsius. Namun, mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim justru membuka akses baru ke kawasan mineral yang sebelumnya tak terjangkau.

Ketertarikan Trump terhadap Greenland juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan rantai pasok global. Selama ini, China mendominasi lebih dari 70 persen produksi dan pemrosesan rare earth dunia, membuat negara-negara Barat rentan terhadap gangguan pasokan.

Ketika China memberlakukan pembatasan ekspor mineral tertentu, industri otomotif, teknologi, hingga pertahanan Barat sempat terguncang.

Nah, Greenland dipandang sebagai alternatif penting bagi AS untuk mengurangi ketergantungan pada China. Pada 2019, AS bahkan sempat menandatangani nota kesepahaman dengan Greenland untuk mengembangkan mineral kritis, meski belum membuahkan produksi nyata.

Pada 2025, Bank Ekspor-Impor AS juga menyatakan minat pembiayaan sekitar US$120 juta atau setara Rp2,02 triliun (asumsi kurs Rp16.902 per dolar AS) untuk proyek tambang Tanbreez.

Namun, persaingan tak hanya datang dari Amerika. China juga sudah lama melirik Greenland.

Perusahaan rare earth China, Shenghe Resources, tercatat menjadi pemegang saham terbesar kedua di proyek Kvanefjeld dan pernah menandatangani kerja sama pengolahan hasil tambang di sana.

Meski kaya mineral, jalan Greenland menuju pusat industri rare earth dunia masih panjang. Selain infrastruktur yang minim dengan Greenland hanya memiliki sekitar 150 kilometer jalan raya di seluruh pulau, tantangan lain datang dari regulasi lingkungan dan penolakan masyarakat lokal, terutama terkait kandungan uranium yang kerap menyertai mineral rare earth.

Pada 2021, pemerintah Greenland bahkan melarang penambangan mineral dengan kandungan uranium tinggi, yang otomatis menghambat proyek Kvanefjeld. Gugatan hukum dan perdebatan politik pun masih berlangsung hingga kini.

[Gambas:Video CNN]

(del/pta)