Bye Dolar, Transaksi Mata Uang Lokal dengan Mitra Tembus US$22,66 M

CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 12:14 WIB
BI mengatakan volume transaksi LCT Januari-Desember 2025 meningkat pesat, bahkan melonjak hampir dua kali lipat dari capaian 2024.
BI mengatakan volume transaksi LCT Januari-Desember 2025 meningkat pesat, bahkan melonjak hampir dua kali lipat dari capaian 2024. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan mitra tercatat sebesar 25,66 miliar dolar AS sepanjang 2025. Langkah ini adalah salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan volume transaksi LCT sepanjang Januari hingga Desember 2025 meningkat pesat, bahkan melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan capaian 2024.

"Di Desember akhir LCT kita mencapai 25,66 miliar dolar AS, dan angka ini jauh meningkat dibandingkan 2024 yang besarnya adalah 12,5 miliar dolar AS," ujarnya dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari, Rabu (21/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Destry, peningkatan penggunaan mata uang selain dolar menjadi bagian penting dari strategi BI dalam memperkuat ketahanan eksternal. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan sistem keuangan nasional terhadap dolar AS.

"Jadi artinya menggunakan mata uang lain selain dolar AS, ini tentunya juga menjadi suatu strategi bagi kami, sehingga itu akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar," ujarnya.

Selain itu, BI juga terus mengembangkan pasar non-dolar dengan membuka pasangan mata uang baru. Dalam sebulan terakhir, BI telah mengaktifkan perdagangan rupiah-yen dan rupiah-yuan.

Destry menyebut tren transaksi di pasar non-dolar tersebut terus menunjukkan peningkatan. Kebutuhan valuta asing tertentu oleh perbankan selama ini masih banyak dipenuhi melalui dolar AS.

"Kemudian kita juga mengembangkan pasar non-dolar. Jadi dalam satu bulan terakhir kemarin, kami sudah membuka juga pasar untuk rupiah-yen dengan Jepang. Kemudian juga dengan RMB (yuan) dengan China dan ini juga kita lihat trennya terus mengalami peningkatan," katanya.

Ia menjelaskan selama ini banyak bank membutuhkan yuan China, tetapi transaksi dilakukan melalui dolar AS terlebih dahulu. Pola ini dinilai tidak efisien dan menambah ketergantungan terhadap dolar AS.

Untuk itu, BI berupaya memotong jalur transaksi tersebut dengan mendorong penggunaan langsung mata uang lokal. Ke depan, pasar rupiah-yuan akan terus diperkuat agar lebih aktif.

"Kami melihat banyak bank juga sebenarnya membutuhkannya CNY, membutuhkannya RMB misalnya. Tapi ternyata mereka transaksinya lewat dolar AS. Ini yang kami coba potong, sehingga untuk ke depan mereka membutuhkan CNY, itu kita akan dorong supaya pasar rupiah-CNY juga akan aktif," kata Destry.

[Gambas:Video CNN]

BI juga telah terlibat langsung dalam perdagangan mata uang non-dolar AS untuk mendorong pendalaman pasar. Langkah ini diharapkan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.

"Dalam hal ini, Bank Indonesia dalam satu bulan terakhir ini, kita sudah aktif untuk melakukan perdagangan di dua currency itu," pungkasnya.

(ldy/ins)