Potret Ekonomi Iran, Terjepit Lonjakan Inflasi hingga Demo Berdarah
Iran menjadi sorotan usai gelombang demonstrasi berdarah menjalar di negara tersebut sejak 28 Desember 2028.
Protes itu awalnya dipicu oleh kenaikan harga gila-gilaan hingga anjloknya nilai tukar rial. Desakan meluas hingga menuntut pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mundur.
Dalam demo tersebut, pihak berwenang dilaporkan menggunakan kekuatan berlebih hingga diduga menelan ribuan korban jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pemerintahan Khamenei menyebut unjuk rasa ini disusupi kepentingan asing dalam hal ini Amerika Serikat dan Israel.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menilai pemerintahan Donald Trump ikut campur urusan negara tersebut di tengah demonstrasi massa. Khamenei menduga Trump punya motif lain yakni mengincar minyak Iran.
Di tengah konflik yang memanas, kondisi ekonomi negara yang dikenal dengan cadangan minyak melimpah di dunia tersebut menjadi sorotan.
Pertumbuhan ekonomi Iran pada tahun 2021-2023 sempat menguat yang menunjukkan pola pemulihan setelah pandemi Covid-19. Namun, pada 2024-2025 cenderung melambat.
Mengutip World Development Indicators oleh World Bank, ekonomi Iran tumbuh sekitar 4,1 persen pada 2021 dan meningkat menjadi 4,4 persen pada 2022. Kemudian, semakin menguat ke 5,3 persen pada 2023 yang menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi selama satu dekade terakhir.
Pertumbuhan ekonomi Iran yang terus meningkat selama periode 2021-2023 tersebut ditopang oleh kontribusi sektor minyak dan gas negara tersebut.
Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Iran melambat menjadi sekitar 3,7 persen pada 2024 yang disebut karena tekanan inflasi tinggi, pelemahan daya beli, dan meningkatnya ketidakpastian global.
Pada 2025, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Iran anjlok menjadi sekitar 0,6 persen. Hal ini diduga karena dampak sanksi ekonomi dari AS serta menurunnya investasi dan akses pembiayaan internasional.
Dari sisi inflasi, menurut Pusat Statistik Iran, indeks harga konsumen (IHK) negara di Timur Tengah tersebut berada di angka 48,6 persen per Oktober 2025.
Angka tersebut pun diduga dipicu oleh kombinasi tekanan nilai tukar rial terhadap AS dan dampak lanjutan sanksi internasional.
Kurs rial Iran terjun bebas di tengah tekanan ekonomi yang semakin parah di negara itu.
Per hari ini, Jumat (16/1), US$1 setara 1,07 juta rial Iran (IRR). Nilai tukar rial anjlok lebih dari 2.450 persen dari posisi di awal 2025 di level US$1 setara 42 ribu rial.
Tak hanya terhadap dolar AS,nilai tukar rial Iran terhadap rupiah juga amblas.Tercatat, Rp1 setara dengan 63,4rial Iran. Artinya Rp1 juta akan setara dengan Rp63,4 juta rial Iran.
Nilai tukar IRR terhadap rupiah amblas 2.360 persen dibanding awal 2025 di level 2,5rialper rupiah.
Imbasnya, pemerintah Iran mengubah kebijakan harga BBM. Padahal, selama ini Iran dikenal memiliki harga BBM yang sangat murah karena disubsidi pemerintah.
Menurut laporan AP News, mulai Desember 2025, Iran menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat dengan kenaikan bertahap untuk mengurangi beban fiskal subsidi yang selama ini sangat besar.
Dalam aturan baru ini, setiap pengendara tetap mendapat jatah 60 liter per bulan dengan harga subsidi 15rialrialper liter. Setelah kuota itu habis, mereka bisa membeli 100 liter tambahan seharga 30 ribu rial per liter.
Namun, untuk konsumsi di atas 160 liter per bulan, harga melonjak menjadi 50 ribu rial per liter.
(fln/sfr)