Inflasi Iran Tembus 70 Persen, Rial Tergerus 40 Persen

CNN Indonesia
Senin, 12 Jan 2026 08:42 WIB
Inflasi Iran melonjak hingga 70 persen memicu protes besar-besaran. Sanksi internasional dan salah kelola ekonomi memperburuk kondisi masyarakat.
Inflasi Iran melonjak hingga 70 persen memicu protes besar-besaran. Sanksi internasional dan salah kelola ekonomi memperburuk kondisi masyarakat. (Foto: ATTA KENARE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Inflasi Iran memicu kemarahan masyarakat dengan gelombang demosntrasi sejak Desember 2025. Warga menjerit lantaran harga-harga, termasuk pangan, naik hingga 70 persen.

Yang mendorong banyak orang turun ke jalan hari ini bukan sekadar kegelisahan, tetapi kondisi 'kantong kosong', menungguk tagihan dan kelangkaan barang-barang.

Sanksi internasional yang ketat, diperparah oleh salah kelola domestik, membuat perekonomian Iran berada dalam kondisi rapuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tekanan ekonomi ini menggerus kepercayaan publik dan mempertinggi rasa ketidakpuasan, terutama di kalangan pekerja dan kelas menengah bawah, yang kini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, Grand Bazaar Teheran yang merupakan simbol dukungan konservatif kepada pemerintah, juga ikutan protes dengan menutup toko. Bloomberg melaporkan aksi protes dengan menutup toko berlangsung nyaris dua minggu.

Kepala geoekonomi Timur Tengah untuk Bloomberg Economics, Dina Esfandiary menilai gelombang protes kali ini bisa berujung menggulingkan pemerintahan. Sebab, ada dua dinamika yang tampak berbeda dalam protes sekarang dengan aksi sebelumnya.

Perbedaan pertama, kondisi ekonomi yang semakin memburuk setelah bertahun-tahun dijatuhi sanski oleh negara Barat.

Mata uang Rial Iran turun sekitar 40 persen yang mendorong inflasi harga pangan hingga 70 persen dari tahun ke tahun. Rial Iran melemah dengan cepat di tengah pengetatan sanksi dan penurunan harga minyak.

Ini diperparah dengan kekeringan bertahun-tahun dan pengelolaan pasokan air yang buruk sehingga mengganggu produksi pangan lokal. Ditambah lagi dengan pemadaman listrik yang berkepanjangan dan lemahnya pasar tenaga kerja.

Perbedaan kedua adalah kedudukan geopolitik Iran telah menurun drastis. Penggulingan Presiden Suriah Bashar al Assad tahun lalu telah mengakhiri aliansi yang sangat penting bagi pengaruh Teheran di kawasan tersebut.

Iran juga menyaksikan sekutunya, Hizbullah dan Hamas, dibom dan dilemahkan di Lebanon dan Gaza.

Esfandiary melihat pemerintah Iran sekarang menghadapi kemungkinan konflik yang nyata. Namun, ia melihat kemungkinan kecil terjadinya keruntuhan total pemerintah atau reformasi.

Ia menilai sistem tetap ada, tetapi dengan pemimpin yang berbeda, atau kudeta yang dipimpin oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Faktor tak terduga lainnya adalah potensi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 86 tahun. Kematian Khamenei berpeluang mengantarkan suksesi pemimpin tertinggi kedua sejak kepergian Shah.

"Perbedaannya kali ini dibandingkan dengan sebelumnya adalah IRGC jauh lebih dominan. Tidak ada susunan skenario di mana pemimpin tertinggi berikutnya tidak bekerja sama erat dengan IRGC," kata Esfandiary.

Menurutnya, semua opsi ini tampak tidak terlalu menjanjikan bagi para pendukung demokrasi, tetapi masih bisa melibatkan pendekatan dengan Washington. Jika benar, momentum tersebut akan menandai evolusi yang luar biasa dalam sejarah kompleks hubungan AS-Iran.

[Gambas:Video CNN]

(pta)