Sriwijaya Air Pilih 'Cerai' dengan Garuda Indonesia

CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 19:29 WIB
Sriwijaya Air Pilih 'Cerai' dengan Garuda Indonesia Kuasa hukum sekaligus pemegang saham Sriwijaya Air Yusril Ihza Mahendra. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisruh Sriwijaya Air Group dan Garuda Indonesia Group mencapai puncaknya. Pemegang saham Sriwijaya memutuskan untuk menghentikan kerja sama manajemen (KSM) dengan Garuda Indonesia.

Perceraian kerja sama tersebut diputuskan dalam rapat yang digelar pada Jum'at (8/11).  Kuasa hukum sekaligus pemegang saham Sriwijaya Yusril Ihza Mahendra mengatakan pihaknya semula akan menyelesaikan rancangan (draf) perpanjangan perjanjian kerja sama dengan Garuda Indonesia pada Kamis (7/11) malam.

Namun, terjadi deadlock (tidak tercapai kesepakatan) dalam penyusunan jajaran direksi Sriwijaya. Karena itulah, maka pemegang saham Sriwijaya Air memutuskan untuk bercerai dengan Garuda Indonesia.


"Nota pemberitahuan pengakhiran kerja sama itu dikirimkan ke Garuda, Citilink dan GMF hari ini. Sriwijaya juga memberitahukan secara resmi Menteri Perhubungan bahwa manajemen Sriwijaya kini diambil alih dan dijalankan sendiri oleh Sriwijaya," katanya melalui keterangan tertulis, Jumat (8/11).

Setelah keputusan tersebut diambil, pemegang saham Sriwijaya memutuskan mengangkat jajaran direksi baru yang seluruhnya berasal dari internal perusahaan. Sejalan dengan itu, Sriwijaya juga mengembalikan semua staf yang sebelumnya ditempatkan dan diperbantukan kepada Garuda Indonesia.

Sriwijaya juga akan mengundang Garuda Indonesia untuk duduk satu meja membahas pemutusan kerja sama yang sudah berlangsung selama setahun itu.

"Kami meminta agar Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan auditor independen melakukan audit terhadap Sriwijaya selama manajemen yang direksinya mayoritas berasal dari Garuda Indonesia Group untuk mengetahui kondisi perusahaan yang sesungguh selama di-manage oleh Garuda Indonesia Group," imbuhnya.

Atas keputusan perceraian tersebut, CNNIndonesia.com sudah berupaya untuk meminta taggapan dari pihak Garuda Indonesia melalui VP Corporate Secretary Garuda M. Ikhsan Rosan. Tapi sampai berita diturunkan, Garuda belum memberikan tanggapannya.
 
Sriwijaya Malah Merugi

Yusril mengungkapkan Sriwijaya justru merugi dalam kerja sama dengan Garuda Indonesia. Alasannya, terlalu banyak konflik kepentingan antara anak perusahaan Garuda Indonesia dengan Sriwijaya lewat kerja sama itu.

Alih-alih memperbaiki kondisi keuangan Sriwijaya, ia mengklaim performa Sriwijaya justru tidak bertambah baik di bawah manajemen yang diambil alih oleh Garuda Indonesia melalui PT Citilink Indonesia.

"Perusahaan malah dikelola tidak efisien dan terjadi pemborosan yang tidak perlu," ujarnya.

Puncaknya, Garuda Indonesia memberikan instruksi mendadak kepada semua anak perusahaannya, yakni PT GMF Aero Asia, PT Gapura Angkasa dan Aerowisata untuk memberikan pelayanan kepada Sriwijaya, dengan syarat pembayaran tunai di muka pada Kamis (8/11). Jika tidak, maka mereka dilarang memberikan pelayanan dan perawatan kepada Sriwijaya.

[Gambas:Video CNN]
"Sriwijaya menolak perubahan sistem pembayaran yang tidak fair ini dan menganggap Garuda Indonesia sengaja ingin melumpuhkan Sriwijaya," ucapnya.

Akibat instruksi mendadak itu, terjadi kekacauan pada sebagian besar penerbangan Sriwijaya pada hari yang sama lantaran pelayanan oleh anak-anak perusahaan Garuda Indonesia berhenti. Sriwijaya, lanjutnya, berusaha untuk mengaktifkan seluruh rute penerbangannya sendiri maupun bekerja sama dengan pihak lain di luar Garuda Indonesia Group. Meliputi layanan perawatan pesawat, line maintenance, groundhandling dan catering.

Tak hanya itu, seluruh peralatan perawatan dan suku cadang pesawat milik Sriwijaya yang selama ini digudangkan oleh Garuda Indonesia, telah diserahkan kembali kepada Sriwijaya. Ini pun setelah didesak berkali-kali bahkan diancam akan dilaporkan ke polisi. Dengan demikian, seluruh rute penerbangan Sriwijaya kembali normal pada Jumat (8/11).

"Sebelumnya, pekerjaan itu memang ditangani oleh Sriwijaya sendiri. Namun setelah kerjasama dengan Garuda Indonesia, semua pelayanan itu diambil alih oleh anak perusahaan Garuda dengan biaya yang jauh lebih mahal," katanya. 

(ulf/agt)