Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan kenaikan laba bersih ditopang pertumbuhan bunga bersih sebesar 12,2 persen dari Rp33,35 triliun menjadi Rp37,43 triliun. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu,10,1 persen.
Jahja bilang kenaikan pendapatan bunga bersih ditopang pertumbuhan penyaluran kredit perseroan sebesar 10,9 persen dari Rp527,88 triliun menjadi Rp585,49 triliun. Namun, angka kenaikan kredit cenderung lesu dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 17,3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Harga Batu Bara Rontok, Bukit Asam Efisiensi |
Tahun depan, perseroan masih mematok target pertumbuhan kredit secara konservatif di rentang 8 persen-9 persen. Namun demikian, target tersebut bisa berubah jika terdapat permintaan kredit dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tinggi.
"Tinggal 3 bulan rasanya 3 bulan terlalu cepat untuk orang ambil keputusan tambah investasi," katanya.
Kendati demikian, kualitas kredit menurun ditandai dengan peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) dari level 1,4 persen menjadi 1,6 persen di September 2019.
Menurut Jahja, kenaikan NPL dipicu kredit macet dari nasabah di wilayah Palu, Sulawesi Tengah lantaran masih dalam proses pemulihan usai bencana gempa dan tsunami yang melanda kawasan itu pada 2018 lalu. Selain itu, kredit macet juga dipicu tunggakan kewajiban salah satu perusahaan baja dalam negeri.
"Kebetulan kami kenanya kecil sekali bank lain bisa 10 kali," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,4 persen dari Rp618,86 triliun menjadi Rp683,05 triliun. Pertumbuhan DPK khususnya berasal dari dana murah (Current Account and Savings Account/CASA) yang tumbuh 7,6 persen dari Rp477,53 triliun menjadi Rp513,88 triliun.
Adapun rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) pada level sehat masing-masing 23,8 persen dan 80,6 persen.
Berkat pencapaian tersebut aset perusahaan terkerek naik 11,8 persen dari Rp798,96 triliun menjadi Rp893,59 triliun.