Ia mengisyaratkan banyak investasi Arab Saudi hanya mendatangkan uang, tetapi tanpa teknologi. "Yang kita butuhkan adalah yang punya teknologi dan produksi. Bukan hanya yang punya uang. Yang bisa kita jual adalah biaya produksi yang murah. Karena, kita tidak punya teknologi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (27/10).
Yose tak menampik Arab Saudi unggul dalam investasi sektor migas. Pun demikian, ia menilai investasi sektor migas pun kurang menarik sejalan dengan tren pelemahan harga minyak dunia. Harap maklum, produksi minyak mentah dunia cenderung surplus dalam beberapa waktu terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian soal pembayaran, kita ketinggalan dengan Malaysia, mereka sudah menyiapkan sistem perbankan syariah. Jadi, kita perlu mempersiapkan instrumen pembiayaan syariah, bukan hanya infrastruktur saja, tapi juga bisnis lainnya," tutur Bhima.
Sebagai catatan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merekam investasi Uni Emirat Arab (UEA) menyentuh US$43,9 juta dari 33 proyek per kuartal II 2019.
Terkait investasi Jepang, Bhima menyatakan mereka sangat memperhatikan tata kelola dari perusahaan rekanannya di Indonesia. Dengan demikian, pemerintah terlebih dulu harus fokus membenahi tata kelola dan good corporate governance (GCG) di tubuh BUMN.
Dengan demikian, Indonesia lebih mudah menarik investasi Jepang. "Mereka juga membutuhkan konsistensi kebijakan," imbuhnya.
Ia menuturkan peluang investasi Jepang terbuka pada sektor otomotif. Terlebih, sambung dia, pemerintah tengah mengembangkan kendaraan listrik. Ia hanya berharap agar aturan turunan dari Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik.
[Gambas:Video CNN]
Sekadar mengingatkan, investasi Jepang merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia. Bahkan, Jepang merupakan negara penyumbang investasi terbesar kedua setelah Singapura.
BKPM mencatat investasi Jepang pada kuartal II 2019 mencapai US$1,22 miliar dari 2.181 proyek. Secara kumulatif Januari-Juni 2019, investasi Jepang tembus US$2,35 miliar dari 3.708 proyek.
Ia justru mewanti-wanti bahwa Indonesia selama ini bukan menjadi tujuan utama investasi dari seluruh negara. Ini disebabkan masalah perizinan, alur birokrasi yang rumit, iklim bisnis yang tidak mendukung, dan masalah ketenagakerjaan.
"Kalau kita menarik, investor akan datang sendiri," katanya. (ulf/bir)