Menurut Andry, seharusnya, kementerian strategis, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, diisi oleh orang-orang profesional. "Saya melihat posisi strategis ini masih diisi dari partai. Idealnya, posisi ini berasal dari profesional," tuturnya dalam diskusi online, Minggu (27/10).
Menengok latar belakang kedua menteri di atas, memang keduanya merupakan politisi partai. Agus Gumiwang adalah anggota Partai Golkar, sementara Agus Suparmanto berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, latar belakang menteri akan mempengaruhi kinerja dari kementerian terkait dan ekonomi dalam negeri ke depannya. Terlebih, Indonesia dihadapkan dengan sejumlah tantangan saat ini.
"Perang dagang China dan Amerika Serikat (AS) masih belum usai. Kedua negara kini dihadapkan pada kondisi sama-sama mulai menanggung dampaknya," papar dia.
Lihat juga:Tiga Pesan Jokowi untuk Wamen Jerry Sambuaga |
Total perdagangan Indonesia dengan China tercatat sebesar US$45,9 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2019. Negeri Tirai Bambu itu menjadi tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan nilai US$17,2 miliar.
Sejumlah produk yang kerap diekspor ke China, antara lain minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), batu bara, besi, baja, bijih tembaga, dan produk dari kayu. Andry menilai ekspor komoditas itu bisa jadi terus menurun sejalan dengan perlambatan ekonomi China akibat perang dagang.
"Upaya mencegah hal ini tentu perlu menjadi fokus lintas kementerian," terang Andry.
"Komposisi pilihan menteri-menteri ekonomi pada kabinet kali ini tentu masih belum dalam kondisi yang ideal," jelasnya.
Di sisi lain, Ekonom Bank Permata Josua Pardede masih optimistis orang-orang pilihan Jokowi masih bisa membawa ekonomi Indonesia lebih baik lagi. Apalagi, Sri Mulyani masih menempati posisi menteri keuangan.
"Posisi kunci tetap di Kementerian Keuangan. Bagaimana mengoptimalkan belanja ke daerah, sehingga diharapkan lebih produktif," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Mengenai banyaknya politisi yang menjadi menteri ekonomi di pemerintahan Jokowi jilid kedua ini, Josua menilai tak ada masalah. Salah satunya terkait penempatan Airlangga di kursi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
"Beliau (Airlangga) kan juga ada pengalaman yang sebelumnya di Kementerian Perindustrian, jadi tidak perlu belajar dari awal," pungkasnya. (aud/bir)