Menko Darmin Yakin Konsumsi Masyarakat Amankan RI dari Resesi

CNN Indonesia | Rabu, 09/10/2019 20:24 WIB
Menko Darmin Yakin Konsumsi Masyarakat Amankan RI dari Resesi Menko Perekonomian Darmin Nasution. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan meski isu resesi ekonomi tengah menerpa sejumlah negara, termasuk Indonesia, pertumbuhan dalam negeri akan tetap stabil. Ia yakin, ekonomi Indonesia  masih mampu tumbuh di kisaran 5 persen pada kuartal III 2019.

Keyakinan ia dasarkan pada laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang kemungkinan masih cukup baik pada Juli-September 2019. Menurutnya, laju konsumsi rumah tangga masih bisa mengimbangi penurunan kontribusi dari sektor perdagangan, baik ekspor maupun impor.

Darmin tak memungkiri isu perlambatan ekonomi dunia dan di sejumlah negara akan menekan kinerja perdagangan dan menghantui ekonomi dalam negeri. Apalagi kondisi tersebut mengakibatkan harga sejumlah komoditas berfluktuasi.


"Kami memang bergantung pada demand dalam negeri daripada ekspor. Tapi jangan dicampur aduk kalau dunia lagi payah, kita dianggap payah juga," ungkap Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (9/10).

Sementara dari sisi kinerja perdagangan, Darmin mengatakan ekspor dan impor sejatinya tetap baik-baik saja. Bahkan, Indonesia berhasil mencatatkan surplus perdagangan pada Agustus 2019.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$80 juta pada Agustus 2019. Surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$14,28 miliar, sementara impor hanya US$14,2 miliar.

Posisi ini membaik dari Juli 2019 yang mengalami defisit US$63,5 juta dan Agustus 2018 yang defisit US$1,02 miliar. Namun, secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus 2019 masih defisit US$1,81 miliar.

"Ekspor impor enam bulan terakhir memang melambat, tapi bulan lalu keadaan sedikit berubah, impor mulai naik, di barang baku dan barang modal," katanya.

[Gambas:Video CNN]
Di sisi lain, meski kinerja perdagangan Indonesia masih merangkak ke arah positif, namun Darmin mengklaim dampaknya ke ekonomi nasional tidak negatif. Bahkan, menurut Darmin, dampaknya ke ekonomi secara keseluruhan tidak lebih parah dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Sebab, porsi sumbangan ekonomi kedua negara dari ekspor impor cukup besar, sehingga ketika perdagangan internasional tengah goyang, ekonomi mereka langsung rentan juga. Hal ini tak lepas dari pengaruh perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

"Pengaruh perdagangan global itu ada, tapi tidak sebanyak Malaysia, apalagi Singapura. Singapura sudah nol persen malah. Porsi ekspor impor kita tidak setinggi Malaysia Thailand, jadi bisa tetap bertahan di 5,1 persen (pada akhir tahun)," pungkasnya.

Pada kuartal I 2019, ekonomi Indonesia tumbuh di angka 5,07 persen. Namun, laju pertumbuhan menurun tipis ke 5,05 persen pada kuartal II 2019.
(uli/agt)