Ramayana Sabang Tutup, Lapak Bakal Disulap jadi Hotel

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 14:25 WIB
Ramayana Sabang Tutup, Lapak Bakal Disulap jadi Hotel Ilustrasi Ramayana. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) menyatakan bakal menutup gerai pertamanya di kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Rencananya, lahan gerai yang ditutup disewakan ke pihak perhotelan.

Direktur Ramayana Lestari Sentosa Suryanto menyatakan pihaknya sudah berdiskusi dengan beberapa pengusaha hotel terkait rencana tersebut. Sayangnya, ia tak menyebut pasti identitas dari pihak perhotelan tersebut.

"Sudah ada itu (diskusi), hotel-hotel kecil," ucap Suryanto, Jumat (24/5).


Suryanto enggan menjelaskan kapan penutupan Ramayana di kawasan Sabang resmi dilakukan. Ia menampik jika penutupan dilakukan karena masalah penjualan yang sepi.


"Itu toko memang kecil kok, bukan untuk skala besar," jelasnya.

Sekretaris Perusahaan Ramayana Lestari Sentosa Setyadi Surya mengatakan tidak hanya menutup, di lain tempat, pihaknya juga akan menambah empat gerai baru. Gerai tersebut, dua di antaranya akan dibuka di Pekanbaru, satu di Semarang dan satu lainnya di Timika.

Total dana yang akan digelontorkan untuk pembukaan gerai baru tersebut Rp200 miliar-Rp240 miliar. Dana pembukaan gerai tersebut rencananya akan diambilkan dari belanja modal Ramayana sebesar Rp300 miliar- Rp400 miliar tahun ini. 

"Ini kami sewa tempat, jadi hitungannya per gerai butuh biaya sekitar Rp50 miliar-Rp60 miliar. Ini sewa ya, kalau bangun dari awal tidak dapat segitu," ucap Setyadi.

[Gambas:Video CNN]

Selain membuka gerai baru, Ramayana kata Setiyadi juga akan merenovasi sejumlah gerai. "Total yang sudah ditransformasi atau direnovasi 24 toko dan akan dilanjutkan 20 lagi. Jadi total sekitar 40 gerai sampai 50 gerai," tuturnya.

Ia mengatakan upaya tersebut dilakukan demi mengejar target pertumbuhan penjualan sebesar 5 persen yang diharapkan bisa dicapai tahun ini. Selain fokus ke renovasi dan transformasi gerai, agar target tersebut bisa dicapai, perusahaan juga fokus dalam mengejar penjualan di musim Ramadan dan Lebaran.

Maklum, setiap tahun rata- rata kontribusi penjualan saat Ramadan dan Lebaran sebesar 30 persen-35 persen. Sumbangan tersebut terbesar dibandingkan momen lain, seperti, tahun baru maupun musim masuk sekolah.

Pasalnya, musim tahun ajaran baru dan tahun baru hanya memberikan kontribusi penjualan sebesar 6,5 persen dan 10 persen. Setiyadi mengatakan pada momen Ramadan dan Lebaran biasanya penjualan bisa naik dua kali lipat dibandingkan bulan biasanya. 


"Untuk kontribusi penjualan 35 persen atau Rp3,5 triliun dua bulan itu ya," jelasnya.

Tapi sayangnya, sampai saat ini penjualan yang diharapkan belum sesuai harapan. Menurut perhitungannya, kemungkinan angka penjualan sudah mencapai Rp1 triliun. 

"Kontribusinya belum banyak," katanya.
(aud/agt)