Dibayangi Aksi 22 Mei, Rupiah Lemah ke Rp14.480 per Dolar AS

CNN Indonesia | Selasa, 21/05/2019 16:49 WIB
Dibayangi Aksi 22 Mei, Rupiah Lemah ke Rp14.480 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.480 per dolar AS pada Selasa (21/5) sore. Dengan demikian, rupiah melemah 0,17 persen dibanding posisi Senin (20/5) yang di angka Rp14.455 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.462 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.478 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.462 per dolar AS hingga Rp14.480 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah pada hari ini. Ringgit Malaysia melemah 0,23 persen, baht Thailand melemah 0,22 persen, dan dolar Singapura melemah 0,18 persen.


Kemudian, yuan China melemah 0,07 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen, won Korea Selatan melemah 0,04 persen, dan rupee India melemah 0,02 persen. Sementara itu, hanya dolar Hong Kong dan peso Filipina saja yang menguat di Asia, yakni 0,01 persen dan 0,32 persen terhadap dolar AS.


Di sisi lain, mata uang negara maju juga melemah terhadap dolar AS seperti dolar Australia sebesar 0,53 persen, poundsterling Inggris sebesar 0,25 persen, dan euro sebesar 0,2 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah masih diserang dari dalam negeri dan luar negeri. Dari sisi eksternal, rupiah tertekan karena Gubernur The Fed Jerome Powell secara tidak langsung menentang kebijakan pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Menurutnya, utang korporasi AS sudah tinggi, sehingga penurunan suku bunga acuan dikhawatirkan akan bikin korporasi berutang lagi untuk ekspansi. Tekanan lain datang dari eskalasi perang dagang yang kian mengkhawatirkan setelah AS menindak keras China Huawei Technologies.

"Meski khawatir perdagangan AS-China dapat memburuk, namun ketegangan antara AS dan China sedikit mereda di hari ini," jelas Ibrahim, Selasa (21/5).

[Gambas:Video CNN]

Dari sisi dalam negeri, polemik hasil pemilihan presiden masih dikhawatirkan pelaku pasar. Meski semalam Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengumumkan rekapitulasi suara, tapi kubu calon pasangan presiden dan wakil presiden nomor 02 masih menganggap pemilu diwarnai kecurangan.

Apalagi, aksi massa pada 22 Mei esok masih terjadwal. "Risiko keamanan masih cukup tinggi, sehingga mungkin menjadi perhatian investor," katanya. (glh/agt)