Marmer Hitam Mahata, Perusahaan yang Tersangkut Kasus Garuda

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 26/04/2019 09:25 WIB
Marmer Hitam Mahata, Perusahaan yang Tersangkut Kasus Garuda Kantor Mahata Group. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama PT Mahata Aero Teknologi dalam dua hari belakangan mencuat ke permukaan. Pemicunya, laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) 2018.

Kantor Mahata sendiri berada di kawasan bisnis Jakarta.  Tepatnya, di lantai 9 gedung perkantoran elite Prosperity Tower Kawasan Pusat Bisnis Sudirman (SCBD).

Suasana kantor PT Mahata sejak siang sampai sore tampak sepi. Hanya terlihat seorang resepsionis, seorang office boy, dan seorang pegawai administrasi.


"Kebetulan banyak pegawai yang perokok. Di sini tidak bisa merokok. Jadi kalau ada rapat, mereka lebih sering di luar," ujar Yasmin Sabri, Sekretaris Administrasi Mahata, kepada CNNIndonesia.com di kantornya, Kamis (25/4).

Berdasarkan keterangan resepsionis kantor, Mahata baru pindah ke gedung tersebut sekitar 6 bulan lalu. Sebelumnya, Mahata berkantor di Lantai 6 Gedung Artha Graha yang terletak di kawasan yang sama.


Orang luar nampaknya tak bisa sembarang masuk ke dalam kantor. Dari awal masuk ke gedung, tamu harus meninggalkan tanda pengenal di resepsionis gedung untuk mendapatkan kartu akses ke lantai tujuan. Kemudian, bagi orang luar, pintu masuk kantor yang terbuat dari kaca juga hanya bisa dibuka dari dalam.

Pegawai memiliki akses masuk dengan memindai sidik jari. Kesan minimalis langsung muncul ketika menjejakkan kaki ke kantor Mahata. Namun, marmer berwarna hitam yang digunakan di lantai memberikan kesan berkelas pada perusahaan rintisan di bidang aviasi ini.

Dari resepsionis bisa terlihat ruang kerja pegawai yang sedang tak ada aktivitas, ruang rapat besar yang kosong dan beberapa ruang rapat kecil.

Nama Mahata mencuat ke publik, gara-gara laporan keuangan Garuda Indonesia dipermasalahkan oleh dua komisaris perusahaan maskapai tersebut, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria.

Mereka menolak menandatangani laporan buku tahunan Garuda 2018 karena tak sepakat dengan salah satu transaksi kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi yang dibukukan sebagai pendapatan oleh manajemen.

Dalam surat yang didapatkan oleh awak media ketika Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) berlangsung pada Rabu (24/4) tertulis bahwa Mahata bekerja sama secara langsung dengan PT Citilink Indonesia. Melalui kesepakatan itu, keuntungan yang diraih Grup Garuda Indonesia sebesar US$239.940.000, dengan US$28.000.000 di antaranya merupakan bagi hasil Garuda Indonesia dengan PT Sriwijaya Air.

Hanya saja, perusahaan sebenarnya belum mendapatkan bayaran dari Mahata atas kerja sama yang dilakukan. Namun manajemen tetap menuliskannya sebagai pendapatan, sehingga secara akuntansi Garuda Indonesia menorehkan laba bersih dari sebelumnya yang rugi sebesar US$216,58 juta.

Marmer Hitam Mahata, Perusahaan yang Tersangkut Kasus GarudaSuasana di kantor Mahata.(Foto: CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)



Sebelum mengunjungi kantor Mahata, CNNIndonesia.com berusaha mencari informasi dari situs resmi perusahaan. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, cukup mengherankan situs resmi perusahaan https://www.mahataaerotech.com/ tak bisa diakses.


Jika dibuka, laman yang muncul bertuliskan 'domain and hosting for sale, still 5 year contract'.

Ketika ditanyakan penyebabnya, Sekretaris Administrasi Yasmin Sabri mengaku heran karena setahunya situs tersebut sebelumnya baik-baik saja. Ia harus menghubungi bagian IT untuk memastikan penyebabnya.

Pada akhirnya, Yasmin mengarahkan CNNIndonesia.com untuk membuat janji dengan Direktur Utama Mahata Muhammad Fitriansyah yang disebutnya sedang berada di luar kota.

"Saya belum mendapat kabar tetapi biasanya kalau dekat akhir pekan seperti ini, mungkin baru Senin ada kabar lagi," ujarnya.