OPEC Imbangi Produksi Saat Iran Dihukum, Harga Minyak Naik

CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 09:43 WIB
OPEC Imbangi Produksi Saat Iran Dihukum, Harga Minyak Naik Ilustrasi kilang minyak. (www.pertamina-ep.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak menguat mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada Selasa (23/4) waktu Amerika Serikat (AS), dipicu anggota negara pengekspor minyak bumi (OPEC) siap meningkatkan produksi hanya jika ada permintaan. Hal itu dilakukan seiring keputusan AS untuk mengakhiri pelonggaran sanksi bagi Iran.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah di pasar berjangka AS meningkat 1,1 persen ke level US$66,30 per barel, setelah mencapai tertinggi harian US$66,60, tertinggi sejak 31 Oktober 2018.

Harga minyak mentah Brent naik 0,6 persen menjadi US$74,51 per barel. Sebelumnya, harga acuan global menyentuh angka US$74,73, level yang tidak pernah terlihat sejak 1 November2018.


Arab Saudi sebagai eksportir utama minyak dunia dan pemimpin de facto OPEC diprediksi mengalami kenaikan produksi pada Mei 2019. Namun hal itu tidak terkait dengan sanksi Iran.


Sumber Reuters menyebutkan produksi Arab Saudi pada Mei juga akan tetap dalam target produksinya di bawah kesepakatan pemotongan pasokan OPEC+, yang telah memimpin pengurangan pasokan global sejak awal tahun ini yang bertujuan menopang harga minyak mentah.

Kelompok ini dijadwalkan bertemu pada bulan Juni untuk membahas kebijakan keluaran.

Amerika Serikat pada hari Senin menuntut pembeli menghentikan pembelian minyak Iran pada 1 Mei atau menghadapi sanksi, mengakhiri enam bulan keringanan yang memungkinkan delapan pembeli terbesar Iran, kebanyakan dari mereka di Asia, untuk terus mengimpor volume terbatas.

Seorang pejabat AS mengungkapkan Presiden AS Donald Trump mengatakan ia yakin Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akan memenuhi janji mereka untuk mengimbangi perbedaan di pasar minyak.

[Gambas:Video CNN]

"Saudi tidak bergegas untuk mengisi apa yang bisa menjadi kesenjangan pasokan yang substansial di pasar. Pasar telah menjadi ketat secara global selama beberapa bulan terakhir, terutama karena upaya Arab Saudi," kata John Kilduff dari Again Capital Management LLC seperti dikutip Reuters. (lav/lav)