AS Bakal Sanksi Negara yang Masih Impor Minyak dari Iran

CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 05:42 WIB
AS Bakal Sanksi Negara yang Masih Impor Minyak dari Iran Presiden AS Donald Trump disebut telah memutuskan tak lagi memberikan keringanan terkait sanksi pada negara-negara yang mengimpor minyak dari Iran.(AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) bakal memberikan sanksi kepada negara-negara yang masih terus mengimpor minyak dari Iran.

Gedung Putih dalam sebuah pernyataan menyebut Presiden AS Donald Trump telah memutuskan tak lagi memberikan keringanan terkait sanksi pada negara-negara yang mengimpor minyak dari Iran. Trump memberikan batas waktu 2 Mei.

"Keputusan ini dimaksudkan untuk menghentikan ekspor minyak Iran yang menjadi sumber pendapatan rezim," ujar Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders, dikutip dari CNN, Selasa (23/4).


Berbicara Senin di sebuah konferensi pers, Sekretaris Negara Mike Pompeo mengatakan pihaknya memiliki tujuan sederhana, yakni menghilangkan dana yang digunakan rezim untuk mengacaukan Timur Tengah selama empat dekade terakhir.


"Memperhatikan bahwa minyak adalah sumber uang tunai rezim," kata Pompeo.

Selama ini, Iran menghasilkan penerimaan US$50 miliar per tahun dari ekspor minyak. Namun, pemerintah AS memperkirakan sanksi tersebut dapat mengurangi penerimaan mereka sekitar US$10 miliar per tahun.

"Kami telah membuat tuntutan kami sangat jelas kepada ayatullah dan kroni-kroninya: akhiri pengejaran senjata nuklir Anda, hentikan pengujian rudal balistik, berhenti mensponsori dan melakukan terorisme, hentikan penahanan sewenang-wenang terhadap warga AS. Tekanan kami bertujuan untuk mengakhiri semua ini," kata Pompeo.

[Gambas:Video CNN]

Negara-negara yang selama ini terus mengimpor minyak Iran dalam jumlah besar termasuk India, Cina, Korea Selatan, Jepang dan Turki.

Menjelang pengumuman hari ini, para pejabat Korea Selatan mengatakan kepada CNN bahwa mereka telah berjuang dengan permintaan AS karena kilang minyak mereka secara khusus disiapkan untuk memproses minyak mentah dari Iran. Pompeo juga mengatakan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah sepakat untuk memastikan pasokan (minyak) yang tepat untuk pasar guna menebus hilangnya minyak Iran di pasar global.

"Saya dapat mengonfirmasi bahwa pemasok itu bekerja secara langsung dengan para pelanggan Iran sebelumnya untuk membuat peralihan dari minyak mentah Iran, sehingga tidak terlalu mengganggu (harga dan pasokan minyak global)," katanya.


Setelah pengumuman dari AS, Menteri Perminyakan Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan produsen minyak lainnya untuk memastikan ketersediaan pasokan minyak yang cukup bagi konsumen dan untuk memastikan pasar minyak global tidak kehilangan keseimbangan.

"AS juga akan membantu kelangkaan pasokan", kata Pompeo.

AS menghasilkan 1,6 juta barel lebih banyak minyak pada tahun 2018. Produksi minyak mereka diperkirakan bakal meningkat pada tahun ini.

Kendati demikian, krisis yang sedang berlangsung di dua negara penghasil minyak, Venezuela dan Libya menimbulkan kekhawatiran bahwa keputusan AS akan membuat pasar minyak lebih tidak stabil. (CNN/agi)