Jokowi Effect Memudar, Rupiah Bersandar ke Posisi Rp14.078

CNN Indonesia | Senin, 22/04/2019 16:42 WIB
Jokowi Effect Memudar, Rupiah Bersandar ke Posisi Rp14.078 Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.078 per dolar AS pada perdagangan spot Senin (22/4) sore ini. Posisi ini melemah dibandingkan perdagangan Kamis (18/4) yang berada di Rp14.044 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) memposisikan rupiah di posisi Rp14.056 per dolar AS atau melemah dibandingkan Kamis (18/4) sore, yaitu Rp14.016 per dolar AS. 

Rupiah tidak melemah sendirian. Bersama dengan rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga melemah terhadap dolar AS. 


Untuk baht Thailand melemah 0,16 persen, rupee India melemah 0,33 persen, peso Filipina melemah 0,55 persen,  dan won Korea melemah 0,42 persen, ringgit Malaysia melemah 0,02 persen, dan dolar Singapura melemah 0,11 persen. 


Sementara itu, di kawasan Eropa, euro diperdagangkan menguat 0,04 persen terhadap dolar AS. Sedangkan poundsterling bergerak stabil.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan dolar AS perkasa karena beberapa faktor eksternal, yaitu rilis data AS yang membaik, seperti penjualan ritelnya naik 1,6 persen pada Maret 2019 dan tunjangan pengangguran yang menurun hingga 13 April. Ini merupakan klaim terendah sejak September 1969.

Faktor lain, Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur dan jasa di Eropa turun. Melihat data ini, ekonomi zona Eropa semakin memburuk, terutama akibat kebijakan keluarnya Inggris dari barisan Uni Eropa (Brexit).

"Selain itu, harga minyak mentah naik lebih dari 2 persen. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak lebih menjadi sebuah bencana, karena Indonesia adalah negara net importir minyak yang mau tidak mau harus mengimpor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri," katanya, Senin (22/4).


Bila harga minyak naik, maka biaya importasi komoditas ini akan semakin mahal. Akibatnya, beban neraca perdagangan dan transaksi berjalan akan semakin dalam, sehingga rupiah kekurangan tenaga untuk menguat.

Di sisi lain, Ibrahim melanjutkan sinyal Jokowi Effect usai pemilihan presiden (pilpres) 2019 mulai mereda. Pekan lalu, sentimen ini sangat ampuh mendorong pasar keuangan di Indonesia, termasuk rupiah yang sempat menorehkan prestasi sebagai mata uang terbaik di Asia.

"Jokowi Effect sudah sulit membuat rupiah bisa tahan lama. Khasiatnya mulai pudar. Minimnya sentimen domestik membuat rupiah terombang-ambing terbawa arus penguatan dolar AS yang menerjang Asia," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]

(agt/bir)