Ekspor Kurang Bergairah karena Situasi Global Lesu

CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 19:47 WIB
Ekspor Kurang Bergairah karena Situasi Global Lesu Ilustrasi peti kemas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) menilai kinerja ekspor Indonesia kurang bergairah pada kuartal I 2019 karena dampak pertumbuhan ekonomi global yang melesu.

Belakangan, lembaga dana moneter dunia (International Monetary Fund/IMF) memang memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia bakal melorot dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen pada tahun ini.

Berdasarkan data BPS, kinerja ekspor Indonesia sebesar US$40,51 miliar pada kuartal I 2019. Capaian tersebut lebih rendah ketimbang kuartal I 2018 yang menyentuh US$44,27 miliar. Di sisi lain, kinerja ekspor yang menurun tak mampu mengimbangi kinerja impor pada kuartal I 2019 sebesar US$40,7 miliar. Walhasil, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$193,4 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini.


Kepala BPS Suhariyanto mengatakan lesunya pertumbuhan ekonomi dunia biasanya akan memberi dampak ke pergerakan harga komoditas di pasar internasional. Hal tersebut selanjutnya bakal mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia yang umumnya merupakan komoditas mentah dan sangat bergantung pada pergerakan harga di pasar internasional.


"Secara keseluruhan, 2019 bukan tahun yang muda. Meski belum bisa dilihat dampak secara keseluruhan dan seberapa besar, tapi ekspor dan impor ada yang naik turun. Penurunan per komoditas memiliki pattern (pola) yang berbeda-beda," ujarnya di Kantor BPS, Senin (15/4).

Dari sini, katanya, Indonesia perlu mewaspadai dampak lesunya pertumbuhan ekonomi global ke depan terhadap realisasi kinerja ekspor. Khususnya bagi kegiatan ekspor yang berbasis komoditas.

"Khususnya komoditas ekspor utama, seperti kelapa sawit, karet, dan batu bara," imbuhnya.

Kemudian, sambungnya, Indonesia juga perlu mewaspadai pertumbuhan ekonomi dari negara-negara mitra dagang utama. Misalnya, China, Jepang, India, dan Singapura. Tak ketinggalan, Indonesia juga perlu memperhatikan berbagai sentimen yang mewarnai kinerja perdagangan ke depan.


"Indonesia perlu memperhatikan kampanye negatif terkait CPO (Crude Palm Oil/minyak sawit mentah) yang diberikan Eropa. Pemerintah perlu melakukan negosiasi lagi," ungkapnya.

Pada Januari-Maret 2019, kinerja ekspor Indonesia ditopang oleh ekspor nonmigas sebesar US$37,07 miliar dan ekspor migas US$3,43 miliar.

Berdasarkan jenis barang, ekspor tertinggi berasal dari bahan bakar mineral mencapai US$5,65 miliar, perhiasan/permata US$1,71 miliar, dan besi serta baja US$1,63 miliar.

Menurut negara, ekspor tertinggi mengalir ke China mencapai US$5,23 miliar, Amerika Serikat (AS) US$4,16 miliar, Jepang US$3,4 miliar, India US$3 miliar, dan Singapura US$1,99 miliar.

[Gambas:Video CNN] (uli/lav)