Jokowi vs Sandi Debat Ekonomi Makro dan Mikro, Pahami Artinya

CNN Indonesia | Minggu, 14/04/2019 10:48 WIB
Jokowi vs Sandi Debat Ekonomi Makro dan Mikro, Pahami Artinya Jokowi menilai kisah orang per orang yang kerap dilontarkan Cawapres Sandiaga Uno sebagai isyarat tak pahamnya Sandi dengan ekonomi makro dan mikro. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno kembali melontarkan kisah orang per orang yang didengarnya pada saat kampanye jelang pilpres 2019 ke 1.550 daerah. Cerita pertama yang diungkapkan Sandi adalah cerita ibu Mia di Tegal yang mengeluh tagihan listrik di rumahnya kini menembus Rp1 juta.

Tak berhenti sampai disitu, Sandi kembali menceritakan keluhan orang lain. Yaitu ibu Nurjanah, seorang pedagang yang mengeluh pasar tradisional semakin sepi.

"Ibu Nurjanah di Langkat Sumatera Utara menyatakan sekarang sepi pembeli yang datang ke tokonya yang ada di pasar tradisional. Kami merasa bahwa ekonomi harus bertumbuh dengan memberi kesempatan membuka lapangan kerja, serta memastikan harga-harga bahan pokok terjangkau," ujarnya dalam debat terakhir, Sabtu (14/4).

Menanggapi hal itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan Sandi bahwa dalam membuat kebijakan ekonomi makro, pemerintah harus melihat perekonomian secara menyeluruh dan komprehensif, tidak bisa berdasarkan keluhan orang per orang.


"Pak Prabowo, pak Sandi, mengelola ekonomi makro berbeda dengan mikro, karena makro agregat produksi dan sisi permintaan dan penawaran harus dijaga kebijakan pemerintah. Kalau kita berhadapan dengan mikro hanya jual dan beli ," kata Jokowi.

Apa sih yang dimaksud dengan ekonomi makro dan ekonomi mikro?

Menurut Profesor Universitas Harvard AS Gregory Mankiw, pada dasarnya ilmu ekonomi merupakan ilmu tentang mengelola sumber daya yang keberadaannya terbatas. Dalam melihatnya, ekonom pada umumnya menggunakan dua kaca mata, yakni secara mikro, dan makro.

Dalam buku 'Principles of Microeconomics', Mankiw mendefinisikan ekonomi mikro sebagai studi tentang bagaimana rumah tangga dan badan usaha mengambil keputusan dan berinteraksi di pasar.


Definisi serupa juga diungkap oleh Sadono Sukirno. Dalam buku bertajuk 'Pengantar Teori Mikroekonomi,' ia mendefinisikan ekonomi mikro sebagai cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan, termasuk penentuan harga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjual-belikan.

Dalam hal ini, ekonomi mikro memperhatikan berbagai perilaku dan keputusan individu maupun badan dalam mempengaruhi penawaran dan permintaan yang pada akhirnya akan menentukan harga barang dan jasa.

Jika melihat definisi tersebut, keluhan yang disampaikan ibu Mia dan ibu Nurjanah merupakan bagian dari ekonomi mikro. Sebagai konsumen, ibu Mia merasa menerima tarif listrik yang tinggi. Sementara, sebagai produsen, Nurjanah merasa pembeli kian sepi.

Meskipun demikian, Sandi mengeneralisasi pengalaman kedua ibu tersebut sebagai kondisi agregat perekonomian. "Ibu-ibu kita itu mengeluh bahwa harga-harga bahan pokok mahal dan ini merupakan fakta. Mungkin di atas kertas yang kita semua terima angkanya baik-baik saja, tapi saya tidak temui," imbuh Sandi.


Melanjutkan Mankiw, ekonomi makro merupakan cabang ekonomi yang melihat fenomena ekonomi secara luas, termasuk inflasi, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi.

Kemudian dalam buku 'Pengantar Teori Makroekonomi', Sadono mengartikan ekonomi makro sebagai cabang ilmu ekonomi yang mempelajari tentang kegiatan utama perekonomian secara komprehensif terhadap berbagai masalah yang terkait pertumbuhan ekonomi.

Selain inflasi, ekonomi makro juga membahas mengenai pengangguran, neraca perdagangan dan pembayaran, serta kegiatan ekonomi yang tidak stabil.

Dalam ekonomi makro, pemerintah turut campur tangan dalam rangka mengerek atau menjaga stabilitas perekonomian. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah akan menjaga stabilitas inflasi, mengurangi tingkat pengangguran, serta stabilitas neraca perdagangan dan pembayaran.

Jokowi vs Sandi Debat Ekonomi Makro dan Mikro, Pahami ArtinyaCapres Petahana Jokowi, Capres Prabowo Subianto dan pasangannya Cawapres Sandiaga Uno saat menghadiri debat terakhir, Sabtu (13/4). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Karenanya, pemerintah dalam menyusun kebijakan harus melihat perekonomian secara agregat atau menyeluruh.

Dalam hal ini, ibu Mia mungkin mengeluh tarif listrik tinggi. Namun, secara keseluruhan, tarif listrik di Indonesia selama beberapa tahun terakhir tidak mengalami kenaikan, sehingga inflasi relatif terjaga.

Selain itu, jika ingin menurunkan tarif listrik, pemerintah juga harus memikirkan dampak terhadap PT PLN (Persero) selaku produsen, termasuk besaran subsidi yang diberikan pemerintah untuk mengkompensasinya.

Hal sama juga berlaku dalam menyikapi keluhan ibu Nurjanah. Selain keluhan Ibu Nurjanah, pemerintah juga harus melihat sisi permintaan dan penawaran secara menyeluruh. Misalnya, pengunjung pasar tradisional sepi, namun pengunjung pasar modern maupun pasar daring meningkat sehingga secara keseluruhan perekonomian masih tumbuh.

Adapun instrumen yang dipakai pemerintah dalam mengatur ekonomi makro adalah instrumen fiskal dalam bentuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun kebijakan terkait fiskal lainnya, seperti perpajakan.


[Gambas:Video CNN] (sfr/bir)