'Hot Money' Bikin Rupiah Menguat Lagi Rp14.190 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 20/03/2019 17:01 WIB
'Hot Money' Bikin Rupiah Menguat Lagi Rp14.190 per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (20/3) sore diperdagangkan di level Rp14.190 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 0,32 persen jika dibandingkan sesi perdagangan Selasa (19/3) sore sebesar Rp14.232 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.231 per dolar AS atau justru melemah dibanding kemarin yakni Rp14.228 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.178 per dolar AS hingga Rp14.234 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,18 persen, yuan China menguat 0,17 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,12 persen. Tak ketinggalan, rupee India menguat 0,1 persen dan won Korea Selatan menguat 0,03 persen.


Di sisi lain, terdapat mata uang yang justru melemah terhadap dolar AS, seperti dolar Singapura sebesar 0,05 persen, yen Jepang sebesar 0,18 persen, dan baht Thailand sebesar 0,3 persen. Kemudian, dolar Hong Kong terlihat tidak bergerak melawan dolar AS.


Kemudian, mata uang negara maju seperti euro dan poundsterling Inggris harus melemah masing-masing 0,11 persen dan 0,33 persen. Kemudian, dolar Australia juga mengalami pelemahan dengan nilai 0,04 persen.

Analis Monex Investindo Faisyal mengatakan penguatan rupiah hari ini diperkirakan terjadi karena pelaku pasar mengincar rupiah hari ini.

Pertama, ini ditopang oleh ekspektasi pasar atas rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada malam nanti. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS The Fed masih mempertahankan sikap dovish dengan tidak menaikkan suku bunga acuan setelah data-data makroekonomi AS tidak menunjukkan perbaikan.

Kemudian, permintaan akan rupiah juga terlihat dari derasnya aliran dana ke Indonesia untuk mengambil keuntungan jangka pendek, atau biasa disebut hot money. Ada kemungkinan, lanjut dia, ini dipicu oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun.

[Gambas:Video CNN]

"Yield obligasi pemerintah ini turunnya lumayan, 0,07 persen," jelas Faisyal kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/3).

Sementara itu, Analis Asia Tradepoint Future Deddy Yusuf Siregar sepakat bahwa hot money menjadi penyebab penguatan rupiah hari ini. Selain karena yield obligasi pemerintah, ini juga disebabkan karena Fitch Ratings memberi peringkat surat utang BBB dengan prospek stabil.

"Jika malam nanti The Fed dovish, maka hot money ini akan semakin menopang rupiah bahkan hingga pekan depan," ujar Deddy. (glh/agt)