ANALISIS

'Kenekatan' Sandi Jadikan OK OCE Program Nasional

ulf, CNN Indonesia | Senin, 18/03/2019 14:44 WIB
'Kenekatan' Sandi Jadikan OK OCE Program Nasional Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno yang ingin membawa program One Kecamatan One Center of Entrepreneurship (OK OCE) menjadi program nasional saat debat calon wakil presiden Minggu (17/3) malam dinilai terlalu nekat. Pasalnya, program andalan yang digadang Sandiaga ketika mencalonkan diri sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta itu belum memberikan dampak besar kepada perekonomian DKI Jakarta.

Ekonom dari Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah Redjalam bahkan menyatakan OK OCE adalah program gagal. Dasar kegagalan ia sampaikan berdasarkan pelaksanaan program tersebut yang saat ini tidak jelas.

"Saya cukup terkejut dengan seorang Sandiaga karena membawa sebuah program yang gagal di level DKI Jakarta ke level nasional. Sebuah program gagal yang dijadikan program utama, ini adalah langkah berani atau nekat," kata Piter kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/3).


Piter mengatakan kegagalan OK OCE tak terlepas dari keseriusan pendanaan dalam melaksanakan program tersebut. Sebagai informasi, Pemprov DKI Jakarta lewat Dinas Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (KUKMP) mengajukan anggaran sebesar Rp3,9 miliar pada APBD-P 2018 untuk membiayai pelatihan dan uji kompetensi pendamping OK OCE.


Namun, DPRD DKI Jakarta tak meloloskan pengajuan anggaran itu karena sejak awal tidak masuk dalam Rancangan Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2018. Selain dukungan pendanaan kurang, Piter menilai kegagalan OK OCE disebabkan oleh konsep pelaksanaan yang lemah.

Kelemahan misalnya, terlihat dari pendampingan wirausaha, manajemen program, dan sebagainya yang belum dirancang secara matang sehingga program tidak jelas. "Kalau OK OCE ini programnya kurang komprehensif, tidak lengkap. Pelatihan, pendampingan, dan pembiayaan tidak dirancang selengkap itu. Tetapi yang paling utama sumber permasalahannya adalah pendanaan," katanya.

Menurutnya, berdasarkan riset yang dilakukan oleh CORE tidak semua masyarakat memiliki minat menjadi seorang wirausahawan. Piter bilang hanya satu dari sepuluh orang yang ingin terjun ke bidang ini.

Oleh sebab itu, mengusung konsep OK OCE menjadi program nasional bukanlah cara efektif untuk mengentaskan masalah ketenagakerjaan. Sebab, banyak masyarakat yang justru memilih menjadi pekerja.

[Gambas:Video CNN]

Karena keinginan itulah, dalam debat Sandiaga seharusnya menawarkan cara konkret dalam menciptakan lapangan kerja. Salah satu cara konkret yang bisa ditawarkan adalah cara mengembangkan industri manufaktur.

Pertumbuhan industri manufaktur yang baik akan memberikan dampak besar terhadap penciptaan lapangan kerja baru, dan tentunya berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. "Tapi sayangnya justru persoalan manufaktur dan deindustrialisasi yang dialami Indonesia tidak dibahas mendalam pada debat semalam. Padahal, selama industri kita tidak tumbuh maka permasalahan ketenagakerjaan tidak akan selesai," katanya.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto memiliki pandangan yang berbeda. Ia mengaku optimis konsep OK OCE bisa merangsang pertumbuhan wirausahawan Indonesia.

Menurutnya, konsep OK OCE menawarkan kluster wirausaha. Tawaran tersebut memungkinkan para pelaku bisnis di dalamnya bisa bertukar pengetahuan.


Sandi dalam debat calon wakil presiden, Minggu (17/3) malam menyatakan akan mengangkat Program OK OCE ke level nasional jika ia terpilih dalam Pemilihan Presiden 2019. Janji ia sampaikan karena ia yakin program tersebut akan efektif dalam mengatasi pengangguran di Indonesia.

Sandiaga mengklaim program OK OCE itu sudah berhasil dilaksanakan di Jakarta dengan baik. Program tersebut telah berhasil menurunkan pengangguran di Ibu Kota sampai dengan 20 ribu orang.

Eko menuturkan OK OCE bisa menjadi wadah para wirausahawan untuk bertukar pengalaman sekaligus mengembangkan bisnisnya.  "Konsep ini jauh lebih baik dibandingkan dengan usaha parsial kemudian diberi modal. Sebenarnya kuncinya yaitu membentuk kluster kemudian ditumbuhkan jiwa wirausaha," ujarnya.

Ia tidak menampik jika pelaksanaan OK OCE di DKI Jakarta saat ini belum maksimal. Dari sisi manajemen program OK OCE masih cenderung dalam tahap pengembangan, sehingga masih membutuhkan penyempurnaan teknis.


"Jadi kalau OK OCE ini belum memperlihatkan efek pengganda, katakanlah adanya pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta dengan lahirnya wirausahawan baru lewat OK OCE," tuturnya.

Eko mengatakan jika Sandi ingin membawa OK OCE menjadi program nasional ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Pertama, dari sisi pendanaan.

OK OCE hendaknya tidak menggunakan dana APBD sebagaimana pernah dijanjikan oleh Sandiaga. Pasalnya, jika menggunakan dana daerah justru program ini dikhawatirkan memicu adanya perilaku moral hazard.

Kedua
, OK OCE harus menumbuhkan ekosistem wirausaha yang memberikan kesempatan bagi anggota untuk bertukar pengalaman dalam pengembangan bisnis. Ekosistem ini sayangnya belum tampak pada implementasi program OK OCE saat ini.


"Konsep yang paling penting adalah pendekatan sharing knowledgde (berbagi ilmu). Agar bagaimana dalam bisnis tidak mengalami kegagalan atau bangkit dari kegagalan. Dan terjadi interaksi antara wirausahawan," katanya.

Mengutip laman resmi OK OCE per hari ini, Senin (18/3) ada sebanyak 64.763 anggota OK OCE di seluruh Indonesia. Untuk DKI Jakarta sendiri, jumlah anggotanya mencapai 50.133 orang.

Program OK OCE diluncurkan pada Februari 2018. Pada saat itu, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat tingkat pengangguran di ibu kota sebesar 5,34 persen.

Namun, pada Agustus 2018 atau enam bulan berikutnya setelah OK OCE dijalankan, tingkat pengangguran di DKI Jakarta justru meningkat menjadi 6,24 persen.

(agt)