Terburuk 3 Tahun, Ekspor China Anjlok 20,7 Persen di Februari

CNN Indonesia | Jumat, 08/03/2019 18:45 WIB
Terburuk 3 Tahun, Ekspor China Anjlok 20,7 Persen di Februari Ilustrasi ekspor impor. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekspor China tercatat turun 20,7 persen secara tahunan pada Februari 2019. Penurunan tersebut menjadi catatan ekspor terburuk sejak Februari 2016.

Pada Januari 2019 lalu, China berhasil mengantongi kenaikan ekspor sebesar 9,1 persen. Penurunan ekspor pada Februari 2019 ini di luar prediksi ekonom yang sebelumnya meramal ekspor hanya akan turun 4,8 persen.

Penurunan  ekspor tersebut menunjukkan perlambatan ekonomi China lebih lanjut meskipun pemerintah telah mengupayakan berbagai langkah untuk mendorong ekonomi mereka. Catatan ini juga meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya pelambatan ekonomi global. Maklum saja, penurunan kinerja ekspor tersebut terjadi tepat sehari setelah Bank Sentral Eropa memangkas target pertumbuhan ekonomi untuk wilayah Eropa.


"Angka perdagangan hari ini memperkuat pandangan kami bahwa resesi perdagangan China sudah mulai muncul," tulis Kepala Ekonom China di ANZ Raymond Yeung dikutip dari Reuters, Jumat (8/3).


"Ekspor China mencatat pertumbuhan negatif pada bulan Desember. Sementara angka-angka ekspor yang kuat pada bulan Januari tidak dapat diandalkan karena distorsi dari periode liburan Tahun Baru Imlek," imbuhnya.

Tidak hanya kinerja ekspor yang mengecewakan, China juga mencatatkan pelemahan impor. Impor China pada Februari 2019 secara tahunan turun 5,2 persen (yoy).

Angka ini melebar dari penurunan impor pada Januari 2019 sebesar 1,5 persen. Capaian itu juga lebih buruk dari perkiraan analis yang meramalkan penurunan impor sebesar 1,4 persen. China terpantau mengalami penurunan impor pada seluruh komoditas utama.

Dengan demikian, China hanya mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$4,12 miliar pada Februari 2019. Impor tersebut, jauh lebih kecil dari prediksi sebelumnya yang sebesar US$26,38 miliar.


Kendati demikian, beberapa analis memperingatkan bahwa data perdagangan China dalam dua bulan pertama tahun ini harus dibaca dengan hati-hati. Menurut mereka, penurunan bisa saja terjadi karena ada faktor gangguan yang disebabkan oleh liburan panjang Tahun Baru Imlek.

Di sisi lain, ada pengamat yang telah meramalkan pelemahan neraca perdagangan China di awal tahun ini. Sebab, survei pabrik menunjukkan berkurangnya pesanan domestik dan ekspor, sejalan dengan perang dagang AS-China yang terus berlanjut.

Perang Dagang

Data perdagangan China yang buruk muncul di tengah-tengah negosiasi intensif AS-China selama berbulan-bulan untuk mengakhiri sengketa perdagangan mereka. AS melaporkan defisit perdagangan barang dengan China melonjak sehingga menjadi defisit perdagangan tertinggi sejak tahun lalu.

Hal tersebut menjadi poin yang dibahas dalam negosiasi dua negara.
Data China menunjukkan adanya penyempitan surplus dagang dengan AS menjadi US$14,72 miliar pada Februari dari US$27,3 miliar pada Januari.


Hasil perundingan menyebut bahwa China telah berjanji untuk membeli lebih banyak barang AS seperti produk pertanian.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (6/3) mengatakan bahwa pembicaraan perdagangan berjalan dengan baik. Trump memprediksi ada kesepakatan yang baik atau tidak ada kesepakatan antara dua negara usai perundingan.

Trump sendiri akhirnya menunda kenaikan tarif AS atas produk China yang dijadwalkan bakal diimplementasikan awal Maret karena perundingan antara dua negara masih berlangsung. Tetapi baik AS maupun China tetap mempertahankan keputusan tarif sebelumnya.

Sejalan dengan perundingan dagang AS-China, permintaan global terus melemah, terutama di Eropa. Bahkan, ekspor China ke semua pasar utamanya jatuh sepanjang bulan lalu.


Sebenarnya, ekonomi China sudah melambat sejak tahun lalu sebelum ketegangan perdagangan meningkat. Pelemahan disebabkan pengetatan aturan pinjaman berisiko yang mengekang perusahaan-perusahaan pembiayaan swasta kecil dan menghambat investasi.

Pemerintah China menargetkan pertumbuhan ekonomi 6-6,5 persen pada 2019. Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan pada pembukaan pertemuan tahunan parlemen China bahwa target itu lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi China pada 2018.

Tahun lalu, realisasi pertumbuhan ekonomi China melambat pada posisi 6,6 persen. Banyak prediksi menyebut perlambatan ekonomi terus berlanjut tahun ini menjadi 6,2 persen. Tak ayal, perlambatan pertumbuhan ekonomi China dan perang dagang AS-China berdampak pada negara-negara yang bergantung pada perdagangan dan ekonomi dunia. (Reuters)