Darmin Minta Biro Umrah Ajak Orang Arab Melancong ke RI

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 14:06 WIB
Darmin Minta Biro Umrah Ajak Orang Arab Melancong ke RI Menko Perekonomian Darmin Nasution meminta biro umroh dan haji ikut mengundang warga Arab Saudi melancong ke Indonesia agar defisit neraca transaksi berjalan bisa dibenahi. (CNN Indonesia/Agustiyanti).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution meminta biro perjalanan haji dan umrah untuk tidak hanya mengajak WNI ibadah ke Arab Saudi. Ia juga meminta biro umrah mengajak warga Arab Saudi untuk berwisata ke Indonesia.

Permintaan ia sampaikan untuk menjaga keseimbangan neraca transaksi berjalan Indonesia. "Kelihatannya kami perlu mendorong itu supaya neracanya tidak terlalu pincang," ujarnya saat menghadiri Milad Ikatan Ahli Ekonomi Islam ke-15 di Jakarta, Rabu 6/3).

Darmin mencatat tahun lalu sebanyak 203,35 ribu orang Warga Negara Indonesia (WNI) menjalankan ibadah haji di Arab Saudi. Jumlah jemaah tersebut merupakan yang terbanyak di dunia.


Jumlah jamaah haji asal Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat. Darmin menyebutkan pada tahun ini daftar tunggu calon jemaah haji mencapai 4,34 juta dan diperkirakan bakal menembus lebih dari 5 juta calon jamaah pada 2022.


Jemaah ibadah umrah dari Indonesia juga mencapai jutaan. Tahun lalu, sebanyak 1,1 juta orang menjalankan ibadah umrah. Selama tiga bulan terakhir, setidaknya 256,7 ribu orang menjalankan ibadah umrah.

Sementara, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah wisatawan asal Arab Saudi tahun lalu hanya 165.862 ribu orang atau justru merosot sekitar 0,15 persen dari periode yang sama tahun lalu 166.111 orang jamaah.

Selain itu, Darmin juga menyoroti banyaknya perlengkapan jemaah yang dipasok dari China seperti tas, koper maupun pakaian. Padahal, barang-barang tersebut seharusnya bisa dibuat di dalam negeri.


"Saya pernah ikut umrah dan ngobrol-ngobrol dengan kelompok-kelompok umrah yang lain itu kan tas, koper bagus-bagus, keren-keren tampilannya, warnanya tetapi begitu ditanya semuanya buatan mana sih, buatan China semua," ujarnya.

Menurut Darmin, penyelenggaraan ibadah umrah dan haji sebaiknya tidak hanya memikirkan kepentingan ibadah jamaah tetapi juga memikirkan kepentingan nasional. Karenanya, Darmin berharap industri pemenuhan kebutuhan ibadah haji di dalam negeri bisa berkembang sehingga pemenuhan kebutuhan jamaah tidak perlu impor.

"Masak kita (Indonesia) enggak bisa mengumpulkan energi dan dana untuk membangun industri untuk (perlengkapan haji) itu supaya tidak memperparah defisit kita dengan China," ujarnya.

Sebagai catatan, berdasarkan data BPS, defisit neraca dagang Indonesia dengan China semakin melebar pada Januari 2019. Tercatat, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China mencapai US$2,43 miliar pada Januari 2019 atau melonjak 32 persen dari posisi yang sama tahun lalu, US$1,84 miliar.

(sfr/agt)