Dibuka Loyo Rp14.113 per dolar AS, Rupiah Berpotensi Menguat

CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 08:41 WIB
Dibuka Loyo Rp14.113 per dolar AS, Rupiah Berpotensi Menguat Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.113 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (19/2) pagi. Dengan demikian, rupiah melemah 0,04 persen dibandingkan penutupan pada Senin (18/2) yakni Rp14.107 per dolar AS.

Pagi hari ini, sebagian mata uang utama negara-negara Asia menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,04 persen, sementara dolar Singapura lunglai 0,05 persen. Kemudian, peso Fiilipina dan ringgit Malaysia juga melemah masing-masing 0,06 persen dan 0,07 persen.

Kemudian, won Korea Selatan melemah 0,16 persen terhadap dolar AS. Sementara dolar Hong Kong terlihat tidak bergeming terhadap dolar AS. Dari seluruh negara Asia, hanya yen Jepang saja yang menguat terhadap dolar AS dengan angka 0,05 persen.


Begitu juga halnya dengan mata uang negara maju. Dolar Australia tercatat melemah 0,09 persen terhadap dolar AS, sementara poundsterling Inggris dan Euro sama-sama menguat 0,06 persen dan 0,03 persen.


Kendati begitu, analis Monex Investindo Faisyal mengatakan rupiah berpotensi menguat pada hari ini yang didukung beberapa faktor global. Pertama, segera tercapainya kesepakatan perang dagang antara AS dan China serta tidak jadinya shutdown pemerintahan AS lantaran presiden Donald Trump sudah meneken anggaran untuk tembok perbatasan yang disodorkan legislatif setempat.

Pasar uang juga masih menunggu pertemuan rapat petinggi The Fed (Federal Open Market Commitee/FOMC) pada pekan ini yang diprediksi masih akan memberikan sentimen dovish.

"Di sisi lain masih belum ada sentimen penting dari domestik, kami perkirakan rupiah hari ini berpotensi di kisaran Rp14.025 hingga Rp14.150 per dolar AS," tutur Faisyal kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/2).

Analis pasar uang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rully Arya Wisnubroto mengatakan pelaku pasar sudah melupakan pengumuman neraca perdagangan Indonesia Januari yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (16/2) kemarin. Adapun menurut BPS, defisit neraca perdagangan sebesar US$1,16 miliar atau melebar dibanding bulan sebelumnya US$1,1 miliar.


"Defisit itu sudah terfleksi pada perdagangan pekan kemarin. Saya sendiri memperkirakan rupiah bisa berpotensi menguat hingga Rp13.950 dengan batas atas Rp14.100 per dolar AS," ujar Rully. (glh/lav)