Ekspor Awal Tahun Lemah, Sri Mulyani Waspada Risiko Global

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 17:12 WIB
Ekspor Awal Tahun Lemah, Sri Mulyani Waspada Risiko Global Ilustrasi peti kemas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati semakin waspada dengan perlambatan ekonomi global, terutama di negara yang menjadi sasaran perdagangan, karena telah berimbas pada capaian ekspor Indonesia awal tahun.

"Risiko dari global meningkat dan tentu destinasi ekspor lebih sulit," ujar Sri Mulyani di Gedung Djuanda Kemenkeu, Senin (18/2).

Sri Mulyani memaparkan proyeksi ekonomi global pada 2019 terus dipangkas dari 3,9 menjadi hanya 3,5 persen. Penurunan terutama berasal dari negara mitra dagang Indonesia di Eropa, China, Jepang, dan Amerika Serikat (AS).



"Kita lihat pertumbuhan ekonomi global di 2019 melemah dari 3,9 ke 3,7 ke 3,5 persen mayoritas dari negara maju seperti RRT (Republik Rakyat Tiongkok/China) yang diperkirakan akan mengalami penyesuaian," ujarnya.

Di sisi lain, harapan terhadap perbaikan laju ekonomi global masih ada. Salah satunya dari sinyal pembahasan sengketa dagang antara AS-China yang bakal rampung.

"Tampaknya, kedua belah pihak juga melihat bahwa (perang dagang) ini tidak baik bagi ekonominya masing-masing," ujarnya.


Selain itu, berdasarkan sinyal bank sentral AS Federal Reserves, kenaikan suku bunga global tahun ini tidak akan seagresif tahun lalu.

"Lingkungan global ini harus kita perhatikan sebagai landasan kita menyusun kebijakan di dalam mengantisipasi ekspor," ujarnya.

Sri Mulyani juga mengingatkan capaian ekspor awal tahun yang merosot karena faktor musiman.


Untuk meningkatkan kinerja ekspor ke depan, pemerintah akan melakukan perbaikan dalam hal efisiensi dan daya saing. Misalnya perbaikan regulasi, birokrasi, dan aplikasi sistem.

"Hal yang bisa kita kendalikan kami akan terus perbaiki sehingga pengusaha merasakan bahwa mereka mendapatkan keringanan dan dukungan dari pemerintah," ujarnya.

Di saat yang bersamaan, pemerintah juga melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor seperti ke Afrika, Timur Tengah, maupun negara berkembang lain.

"Meskipun untuk destinasi pasar baru ini kami tetap harus hati-hati mengenai nilai tukar karena kemampuan mendapatkan dolar atau kalau dia menggunakan mata uang lokal berarti ada persoalan kepastian biaya," ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)