Defisit Dagang Bikin Performa Rupiah Paling Lesu di Asia

CNN Indonesia | Jumat, 15/02/2019 16:42 WIB
Defisit Dagang Bikin Performa Rupiah Paling Lesu di Asia Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat pada posisi Rp14.154 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (14/2) pagi. Dengan demikian, rupiah melemah 0,45 persen dibandingkan penutupan pada Rabu (13/2) yakni Rp14.090 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.116 per dolar AS, atau melemah dibanding sehari sebelumnya Rp14.093 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian mata uang utama negara-negara Asia menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan 0,41 persen, rupee India melemah 0,33 persen, dan won Korea Selatan 0,31 persen.


Yuan China juga melemah 0,1 persen, dolar Singapura melemah 0,07 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Di sisi lain, peso Filipina, baht Thailand, dan yen Jepang menunjukkan penguatan terhadap dolar AS dengan penguatan masing-masing di angka 01,2 persen, 0,12 persen, dan 0,13 persen.


Sementara itu, mata uang negara-negara maju juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS, seperti euro yang melemah 0,19 persen dan dolar Australia yang melemah 0,22 persen. Sedangkan poundsterling Inggris tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan hari ini rupiah betul-betul dipengaruhi oleh hasil neraca perdagangan Indonesia pada Januari yang mencatat defisit lebih dalam ketimbang bulan sebelumnya.

Badan Pusat Statitsik (BPS) mencatat, ekspor Januari tercatat US$13,87 miliar atau turun 4,7 persen secara tahunan. Dengan impor yang tercatat US$15,03 miliar, neraca perdagangan defisit US$1,16 miliar. Padahal, neraca perdagangan pada awalnya diprediksi hanya US$925,5 juta.

"Defisit neraca perdagangan, apalagi sampai di atas US$1 miliar adalah fenomena yang agak langka pada Januari. Biasanya neraca perdagangan malah mencetak surplus pada awal tahun. Sejak 2008, defisit perdagangan Januari hanya terjadi pada 2013, 2014, 2018, dan 2019," jelas Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/2).


Tak berhenti di sentimen domestik, ternyata rupiah juga harus tertekan dengan sentimen dari luar negeri. Utamanya dari pertemuan antara AS dan China terkait negosiasi perang dagang yang memasuki pembahasan mengenai hak intelektual.

Kemudian, sentimen juga hadir dari Inggris di mana Perdana Menteri Theresa May mendera kekalahan pada strategi Brexit pada Kamis kemarin. May telah merusak janjinya kepada para pemimpin Uni Eropa untuk mendapatkan persetujuan pemisahan.

"Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret tanpa kesepakatan, kecuali jika May dapat membujuk blok tersebut untuk mengubah kesepakatan pemisahan yang dia sepakati tahun lalu," pungkas dia. (glh/agi)