Kondisi Ekonomi China Lebih Lesu dari Data di Atas Kertas

CNN Indonesia | Selasa, 12/02/2019 11:57 WIB
Kondisi Ekonomi China Lebih Lesu dari Data di Atas Kertas Pertumbuhan ekonomi China tahun lalu yang hanya mencapai 6,6 persen, terendah dalam 28 tahun terakhir dinilai masih lebih baik dari kondisi sebenarnya. (AP Photo/Andy Wong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan dan eksekutif di seluruh dunia berusaha keras mengukur tingkat keparahan perlambatan ekonomi China. Namun, sulit mendapatkan gambaran yang jelas terkait kondisi tersebut.

Pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini melambat tahun lalu ke level terendah dalam hampir tiga dekade terakhir. Merek-merek global, termasuk Apple (AAPL) dan Caterpilar (CAT) menyalahkan perlambatan ekonomi China atas pendapatan yang tak sesuai target.

Banyak analis menduga situasi tersebut lebih buruk dari data resmi yang dirilis Tiongkok.


"Angka-angka PDB yang diterbitkan Tiongkok benar-benar sampah. Sudah pasti angka-angka ini tak bisa diandalkan," kata Leland Miller, CEO Lembaga Konsultan China Beige Book seperti dikutip dari CNN, Selasa (12/2).

Miller mengaku pihaknya mengumpulkan data dari ribuan perusahaan di berbagai industri di China untuk mendapatkan gambaran sendiri terkait perlambatan yang terjadi di Negeri Tirai Bambu itu. Dari data-data yang diperolehnya, ekonomi China menunjukkan kondisi yang jauh lebih lemah dari angka-angka yang disajikan pemerintah dan sulit untuk kembali menguat dalam waktu dekat.


Mengetahui seberapa dalam kemerosotan ekonomi China menjadi penting bagi pebisnis untuk membuat keputusan dalam berinvestasi dan investor untuk menaruh uangnya.

China sedang bergulat dengan dampak dari pinjaman-pinjaman berisiko dan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Beberapa analis menuduh Badan Statistik China lebih fokus membuat kinerja pemerintah terlihat baik ketimbang memberikan data yang benar-benar merefleksikan kesehatan ekonomi China.

Lembaga Penelitian Capital Economics menilai ekonomi China tahun lalu kemungkinan hanya tumbuh sekitar 5 persen dibanding data resmi sebesar 6,6 persen. Lembaga tersebut meneliti berbagai data termasuk dari angkatan laut, pembangkit listrik, dan pinjaman keuangan untuk menghasilkan sejumlah indikator guna mengukur pertumbuhan ekonomi tersebut.

Perlambatan ekonomi telah membuat bisnis di China lesu. Wei Bingyu, pemilik pabrik cat industri di Beijing memperkirakan ekonomi akan semakin memburuk dalam beberapa bulan mendatang. Ia pun menyalahkan kesulitan perang dagang dan permasalahan lainnya.

Sebuah survei independen mengukur kesehatan sektor manufaktur besar China merosot ke level terendah dalam hampir tiga tahun pada bulan lalu.


Investor melihat ada tanda-tanda pelemahan ekonomi yang mencakup penurunan laba industri dan ekspor yang turun.

Perilaku konsumen China menjadi fokus utama. Pengeluaran konsumen China, menurut data resmi, naik sebesar 10 persen tahun lalu. Namun, data penjualan mobil justru menurun untuk pertama kali dalam 20 tahun terakhir.

"Data resmi China soal pertumbuhan konsumsi terlalu berlebih-lebihan." ujar Ekonom Senior China pada Capital Economics.

Dia memperkirakan konsumsi masyarakat China hanya tumbuh 3 persen tahun lalu didorong oleh mengetatkan belanja kelas menengah.

Kondisi itu sesuai dengan apa yang dikatakan beberapa pemilik bisnis. Zhou Chang, pemilik pusat kebugaran di pusat kota Beijing, mengatakan kepada CNN bahwa pelanggannya menghabiskan lebih sedikit waktu di tempat pusat perbelanjaan. 


"Tidak seperti makan, pakaian, perumahan atau bepergian, itu harus dimiliki, sementara bina raga tidak. Banyak pusat kebugaran tutup sementara atau bangkrut," terang China.

Sementara pemerintah China menilai ketakutan terhadap perlambatan ekonomi terlalu berlebihan.

Dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos bulan lalu, Wakil Presiden Qishan meminta investor tak perlu ketakutan dengan kondisi ekonomi. "Akan banyak ketidakpastian pada 2019, tapi yang pasti pertumbuhan ekonomi China akan berlanjut dan stabil," jelas dia.

Kendati demikian, pemerintah China menjadikan tanda-tanda perlambatan ekonomi sebagai fokus utama. Mereka berusaha menggenjot perekonomian dengan memangkas pajak, mengeluarkan lebih banyak anggaran untuk infrastruktur, dan melonggarkan kebijakan moneter. (CNN/agi)