Impor Migas Biang Keladi Transaksi Berjalan Defisit US$31 M

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 21:01 WIB
Impor Migas Biang Keladi Transaksi Berjalan Defisit US$31 M Ilustrasi. (REUTERS/Darren Whiteside).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengklaim banjirnya impor minyak dan gas (migas) sepanjang 2018 membuat defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tahun lalu tembus US$31,1 miliar. Angka defisit itu melebar dari posisi 2017 yang hanya US$17,31 miliar.

Neraca transaksi berjalan 2018 itu setara dengan 2,98 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, defisit 2017 hanya setara 1,7 persen terhadap PDB.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Yati Kurniati mengatakan jumlah impor migas setiap tahunnya selalu naik. Namun, sebelumnya hal itu bisa ditutupi oleh neraca nonmigas.


"Tapi untuk tahun lalu gap-nya tidak menutup," tutur Yati, Jumat (8/2).


Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah impor migas sepanjang 2018 sebesar US$29,8 miliar atau naik 22,59 persen dibandingkan dengan 2017. Kenaikan itu didorong oleh naiknya impor seluruh komponen migas, yakni minyak mentah, dan migas.

Kemudian, impor nonmigas juga terjadi kenaikan sebesar 19,71 persen secara tahunan pada 2018 menjadi US$158 miliar. Beberapa komoditas yang meningkat, antara lain besi dan baja, plastik, bahan kimia organik, perhiasan, gula, dan pupuk.

"(Untuk mengurangi impor migas) sedang diupayakan perbaikan-perbaikan baik dari sisi penghematan konsumsi yang diganti dengan biofuel," ujar Yati.

Seperti diketahui, pemerintah telah berupaya menekan neraca migas dengan mengimplementasikan program pencampuran biodiesel (B20) sejak akhir tahun lalu. Namun, hal itu rupanya belum berpengaruh banyak kepada impor migas.


"Program B20 baru mulai September 2018 dan efeknya terbatas, efeknya belum signifikan," tutur Yati.

Untuk ke depannya, BI masih melihat persoalan defisit transaksi berjalan ini belum akan berakhir pada 2019. Yati meramalkan transaksi berjalan tahun ini akan kembali defisit.

"Kami masih lihat beberapa perkembangan terakhir apakah ada tanda-tanda untuk ekspor beberapa komoditas," ujar Yati.

Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu mengeluarkan paket kebijakan baru untuk mengendalikan impor dan sektor pariwisata untuk mendatangkan devisa ke dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga perlu mengeluarkan kebijakan ekspor untuk otomotif.


"Harapannya transaksi berjalan tapi bisa lebih baik tahun ini," pungkas dia.

Informasi saja, neraca perdagangan Indonesia pada 2018 tercatat defisit sebesar US$8,57 miliar. Hal itu berbanding terbalik dengan capaian 2017 yang surplus sebesar US$11,84 miliar. (aud/lav)