Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 2 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 07:05 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 2 Persen Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia merosot lebih dari 2 persen pada perdagangan Kamis (7/2), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan harga dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap perlambatan permintaan global ke depan.

Dilansir dari Reuters, Jumat (8/2), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$1,35 atau 2,2 persen menjadi US$61,34 per barel pada pukul 11:21 EST. Sedangkan harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,65 atau 3,05 persen menjadi US$52,38 per barel.

Bangkitnya harga minyak dari level harga yang rendah di akhir Desember 2018 sepertinya terhambat. Hal itu akibat kekhawatiran terhadap perang dagang antara AS-China yang akan berlanjut dan membebani permintaan.


"Sepertinya ada ketidakpastian terkait apa yang akan terjadi dengan pembicaraan perdagangan (AS-China), dengan pertumbuhan ekonomi dan permintaan global di tahun yang akan datang," ujar Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, Connecticut.


Secara khusus, McGillian menilai pasar khawatir terhadap kemampuan permintaan menyerap pertumbuhan produksi minyak mentah AS.

"Fundamental pasokan semakin menopang harga pada beberapa pekan terakhir, namun pasar masih khawatir soal hal yang belum terjadi yaitu dampak lemahnya fundamental makroekonomi terhadap permintaan," ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.

Meski AS telah merilis data ketenagakerjaan yang bagus pekan lalu, pasar global tetap was-was setelah China melaporkan pertumbuhan ekonomi terendah untuk hampir 30 tahun terakhir pada Januari 2019 lalu. Hal itu menambah perhatian pasar terhadap hasil pembicaraan AS-China untuk mengakhiri perang dagang antara keduanya.

Harga minyak juga mendapatkan tekanan setelah Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) merilis data kenaikan persediaan minyak yang tidak disambut pada Rabu (6/2) lalu.

Di sisi lain, penurunan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan merosotnya pasokan dari Iran dan Venezuela akibat sanksi AS telah membuat banyak analis memperkirakan pasar minyak akan seimbang pada 2019.

Sejauh ini, harga minyak dunia telah menanjak sekitar 20 persen sejak awal tahun.


Sumber Reuters dari OPEC menyatakan eksportir minyak utama dunia Arab Saudi telah memompa 10,24 juta barel per hari (bph) pada Januari 2019 lalu, pemangkasan yang lebih besar dari target kesepakatan pemangkasan OPEC. Sebagai catatan, Arab Saudi memompa 10,643 juta bph minyak pada Desember 2018.

"Kami meyakini estimasi pasar keuangan mungkin berlebihan terhadap risiko resesi global," ujar Kepala Riset Aplikasi Pictet Wealth Management Jean-Pierre Durante.

Menurut Durante, rendahnya harga minyak kemungkinan akan menstimulasi aktivitas ekonomi dan permintaan minyak, khususnya di pasar negara berkembang. Sebagai catatan harga minyak pada Januari lebih rendah sekitar 14-18 persen dari rata-rata harga pada 2018 lalu.

Sementara itu, sanksi AS terhadap industri perminyakan Venezuela diperkirakan bakal menahan proses penjualan ekspor minyak mentah Venezuela ke Negeri Paman Sam. (sfr/agi)