Stok Global Menipis, Harga Minyak Dunia Melonjak

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 07:21 WIB
Stok Global Menipis, Harga Minyak Dunia Melonjak Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menanjak sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu (6/2), waktu Amerika Seikat (AS). Penguatan dipicu oleh sinyal kuatnya permintaan AS terhadap produk minyak distilasi dan mengetatnya pasokan minyak mentah global. Namun, pelemahan dibatasi oleh menguatnya kurs dolar AS dan kekhawatiran terhadap perlambatan laju perekonomian global.

Dilansir dari Reuters, Kamis (7/2), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,71 atau 1,15 persen menjadi US$62,69 per barel. Di awal sesi perdagangan, harga Brent sempat tertekan ke level US$61,05 per barel.

Penguatan juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,35 atau 0,65 persen menjadi US$54,01 per barel, naik dari level terendah dalam sesi tersebut US$52,86 per barel.


Pada Rabu (6/2) kemarin, data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah domestik pada pekan lalu naik di bawah perkiraan. Stok minyak mentah tercatat bertambah 1,3 juta barel pada pekan yang berakhir 1 Februari 2019. Padahal, para analis memperkirakan kenaikan akan mencapai 2,2 juta barel.


Stok bensin juga menanjak sebesar 513 ribu barel, di bawah yang diperkirakan. Sementara, stok minyak distiliasi merosot lebih besar dari perkiraan yang mencapai 2,3 juta barel.

"Permintaan minyak distilasi naik tajam pekan lalu akibat cuaca dingin ekstrem yang berkontribusi terhadap penurunan stok minyak distilasi,"ujar Analis Commerzbank Carsten Fritsch.

Secara umum, Fritsch menilai laporan data pemerintah AS itu bersifat mendongkrak harga minyak menyak dan produk kilang.

Pelaku pasar telah memusatkan perhatiannya pada sinyal pengetatan pasokan minyak mentah global setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, mulai mengimplememtasikan kebijakan pemangkasan produksi pada Januari 2019 lalu.


Kelompok yang dikenal dengan sebutan OPEC+ itu mulai memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) sejak bulan lalu untuk mengatasi membanjirnya pasokan. Pekan lalu, survei Reuters mencatat OPEC telah memenuhi hampir tiga perempat dari komitmennya.

Selain itu, pengenaan sanksi AS terhadap perusahaan minyak pelat merah Venezuela PDVSA juga turut mendongkrak harga, meski belum tajam. Sanksi tersebut dilakukan dengan menghalangi perusahaan kilang AS membayar kepada akun PDVSA yang dikendalikan oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Pada Rabu (6/2) kemarin, kuasa hukum partai oposisi Venezuela menyatakan telah membuka akun pendanaan dari AS untuk menerima hasil penjualan minyak sebagai upaya untuk mengamankan penerimaan. Hal itu dilakukan untuk mengusir Maduro.

Sementara, penguatan kurs dolar AS membatasi kenaikan harga pada perdagangan kemarin. Dolar AS yang menguat membuat komoditas yang diperdagangkan dengan mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi konsumen yang memegang mata uang lain.


"Pasar terus tertekan ke bawah sebagian besar karena tekanan dari penguatan dolar AS pekan ini," ujar Direktur Utama Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Selain itu, pasar juga tertekan oleh kekhawatiran terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi global dan sengketa dagang AS-China. Harga minyak sempat merosot pada perdagangan Selasa (5/2) lalu setelah sebuah survei menunjukkan hampir tidak ada ekspansi bisnis di Uni Eropa pada Januari lalu.

Dalam pidato State of the Union, Presiden AS Donald Trump menyebutkan kesepakatan dagang dengan China mungkin terwujud.

Perwakilan senior AS dan China dijadwalkan akan kembali melakukan pembahasan terkait perdagangan pada pekan depan. (sfr/agi)