Darmin: Pendapatan Per Kapita Naik Tak Jamin Jadi Negara Maju

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 09:26 WIB
Darmin: Pendapatan Per Kapita Naik Tak Jamin Jadi Negara Maju Menteri koordinator Perekonomian Darmin Nasution menilai kenaikan tingkat pendapatan per kapita itu tak serta merta pula menyelamatkan Indonesia dari jebakan kategori negara berpenghasilan menengah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai kenaikan tingkat pendapatan per kapita atau rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia belum menjadi jaminan untuk menjadi negara maju.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan per kapita masyarakat Indonesia sebesar Rp56 juta atau US$3.927 per tahun pada 2018. Angka pendapatan ini meningkat dari Rp51,89 juta atau US$3.876,8 per tahun pada 2017 dan membuat Indonesia naik ke kategori negara berpendapatan menengah ke atas.

Saat ini, Bank Dunia membagi negara-negara dalam empat kategori, yakni kelompok negara berpendapatan rendah dengan pendapatan per kapita per tahun sebesar US$995 ke bawah.


Lalu, negara berpendapatan menengah ke bawah di kisaran US$996-3.895, negara berpendapatan menengah ke atas US$3.896-12.055, dan negara pendapatan tinggi atau maju yakni di atas US$12.056.


"Tapi banyak negara yang pendapatannya naik, tapi dia tidak maju-maju juga. Di Amerika Latin banyak negara seperti itu," ucap Darmin di kantornya, Rabu (6/2) malam.

Lebih lanjut ia melihat kenaikan tingkat pendapatan per kapita itu tak serta merta pula menyelamatkan Indonesia dari jebakan kategori negara berpenghasilan menengah (middle income trap).

"Itu dia, perjuangannya masih perlu waktu untuk menjawab itu," imbuhnya.


Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong melihat kenaikan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia mungkin bisa memberi dampak pada peningkatan investasi.

Sebab, hal ini menunjukkan ada peningkatan daya beli. Apalagi, tingkat inflasi di Tanah Air juga cukup terjaga. Pada tahun lalu misalnya, inflasi berada di angka 3,13 persen dari target 3,5 persen.

"Berarti daya beli masyarakat relatif terjaga, sehingga memang Indonesia menjadi menarik untuk investasi. Surveyor swasta juga melihat inflasi rendah, apalagi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya," jelasnya. (agi/agi)