Ekonomi RI Kuartal I Diproyeksi Lebih Rendah dari Tahun Lalu

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 06:50 WIB
Ekonomi RI Kuartal I Diproyeksi Lebih Rendah dari Tahun Lalu Menko Darmin menilai pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I 2019 akan lebih rendah ketimbang kuartal IV 2018 lalu karena gejolak ekonomi global. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2019 akan lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2018, yakni sebesar 5,18 persen, bahkan keseluruhan tahun lalu mencapai 5,17 persen.

Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini yang lebih rendah, menurut Darmin, terindikasi dari kondisi ekonomi global yang masih diselimuti oleh ketidakpastian. Apalagi, lembaga internasional sekelas Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memandang ekonomi global bakal kembali tertekan.

IMF memperkirakan ekonomi global hanya akan tumbuh 3,5 persen pada tahun ini. Angka tersebut lebih rendah dari asumsi sebelumnya yang dibuat pada Oktober 2018 mencapai 3,7 persen.


"Memang iramanya kalau seasonal (musiman) seperti itu (rendah di awal tahun). Kira-kira dibandingkan kuartal I 2018 lebih baik, tapi bukan lebih baik dari kuartal IV 2018," ujarnya di kantornya, Rabu (6/2).

Meski begitu, ia enggan memberi angka perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal I. Sedangkan untuk asumsi setahun penuh, ia menyatakan pemerintah masih cukup optimis bisa mengejar target awal sebesar 5,3 persen.

Lebih lanjut ia bilang ekonomi secara keseluruhan untuk tahun ini tidak jauh berbeda dengan kinerja perekonomian pada 2018. "Motor penggerak ekonomi tahun ini masih konsumsi dan investasi," imbuh dia.


Konsumsi rumah tangga masih jadi tulang punggung kinerja perekonomian Tanah Air karena tengah membaik akibat peningkatan pendapatan dan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.

Selain itu, pemerintah kembali memberikan bansos kepada 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada tahun ini, dengan jumlah anggaran yang meningkat hampir dua kali lipat.

Sementara, untuk investasi, pemerintah bakal terus berupaya agar perizinan dan prosedur berusaha di dalam negeri kian cepat dan efektif. Tujuannya, agar pertumbuhan investasi yang sebelumnya bisa mencapai kisaran 7 persen bisa terulang.


Sebab, tahun lalu, pertumbuhan investasi hanya mencapai angka 6,67 persen. "Ekonomi ini banyak sektornya ada yang turun dan naik, semua kami lihat," katanya.

Tak ketinggalan, kinerja ekspor juga akan terus digenjot pemerintah agar bisa mengimbangi laju pertumbuhan impor. Ia mengatakan peningkatan ekspor akan dilakukan dengan penyederhanaan prosedur ekspor, kelogistikan, hingga pembukaan akses pasar melalui kerja sama perdagangan.


(uli/bir)