Kala China 'Diam-diam' Hapus Sebagian Utang Negara Afrika

CNN Indonesia | Selasa, 05/02/2019 16:12 WIB
Kala China 'Diam-diam' Hapus Sebagian Utang Negara Afrika Presiden China Xi Jinping. (REUTERS/Damir Sagolj)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diplomat China Yang Jiechi bertemu Presiden Kamerun Paul Biya di ibu kota Yaounde pada bulan lalu dan menghasilkan kesepakatan penghapusan sebagian utang negara Afrika itu. Namun, kesepakatan tersebut hampir tidak menjadi perhatian media.

China kala itu tidak mengeluarkan siaran pers. Pemerintah Kamerun juga tak menyebut pembatalan utang dalam siaran pers terkait kunjungan Yang.

Namun, ketika sebuah laporan berita China menuduh Beijing menghapus 3 triliun franc Afrika Tengah atau sekitar US$5,2 miliar (Rp72,8 triliun, asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS) utang Kamerun dalam perjalanan Yang, kesepakatan tersebut kembali menjadi pembahasan.


Angka itu pun ternyata salah. Menurut China Africa Research Initative (CARI), angka sebesar US$5 miliar mendekati total pinjaman Kamerun dari Beijing sejak 2000 dan melebihi utang yang diyakini dimiliki negara itu.

Sementara laporan berita itu salah, pemberitaan tersebut telah memaksa pemerintah China untuk berbicara terkait kesepakatan yang sebenarnya dicapai.


Dikutip dari CNN, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying pada pekan lalu mengatakan bahwa China setuju untuk menghapuskan utang bebas bunga antar pemerintah yang belum dibayarkan Kamerun pada akhir 2018.

Utang yang dihapus bernilai US$78,4 juta (sekitar Rp1,1 triliun). Menurut data IMF, saat ini total utang pemerintah Kamerun sebesar US$5,8 triliun. Dari jumlah tersebut, sepertinya merupakan utang ke China. Dengan demikian, penghapusan utang tersebut hanya sebagian kecil dari tanggung jawab Kamerun terhadai China.

Jadi mengapa harus rahasia di awal?

Penghapusan utang untuk negara-negara berkembang biasanya disambut meriah, seperti yang dilakukan IMF, HIPC Bank Dunia, dan Paris Club pada sekitar awal tahun 2000.

Namun di China, penghapusan utang menjadi lebih rumit, di mana utang ke negara Afrika kian kontroversial di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Ketika Presiden Xi Jinpung menjanjikan paket bantuan, investasi, dan pinjaman senilai US$60 miliar untuk Afrika pada September lalu di forum tiga tahunan kerja sama China-Afrika, banyak kritik bermunculan di internet.


Para pengkritik mempertanyakan mengapa China yang masih memiliki 30 juta orang miskin (didefinisikan dengan pendapatan tahunan kurang dari 2.300 yuan atau Rp4,77 juta) justru memberi uang ke Afrika. Namun, sensor pemerintah dengan cepat menghapus kritikan-kritikan tersebut.

Selain itu, ada pula pertimbangan besarnya pinjaman yang sudah diberikan China ke negara-negara Afrika yang mencapai US$143 miliar sejak tahun 2000. Kelonggaran Beijing pada Kamerun pun dikhawatirkan bakal mendorong negara-negara lain di Afrika yang sangat berpengaruh seperti Ethiopia, Djibouti, dan Zambia untuk meminta perlakuan yang sama.

Namun, China mungkin melakukan kesepakatan tersebut tanpa diketahui karena kekacauan politik di Kamerun.

Pekan lalu, polisi menangkap Maurice Kamto, pemimpin oposisi Kamerun yang mengklaim telah memenangkan pemilihan tahun lalu, bersama dengan beberapa staf pendukung, di tengah protes yang memicu ketidakstabilan politik.

Karena kerusuhan, Kamerun telah dilucuti dari hak untuk menjadi tuan rumah Piala Afrika 2019, kejuaraan dua tahunan sepak bola benua, yang sekarang akan berlangsung di Mesir.
Kala China 'Diam-diam' Hapus Sebagian Utang Negara Afrika Potret kehidupan warga Kamerun. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
'Taring' China di Kamerun
China menjalin hubungan diplomatik dengan Kamerun mulai 1971. Kemitraan ekonomi mereka tumbuh setelah Nicolas Sarkozy menjadi presiden Prancis pada 2007 dan mengawasi penurunan keterlibatan negaranya dengan bekas wilayah kolonialnya, meninggalkan kekosongan bagi Beijing untuk diisi.

Sejak pergantian abad, Cina telah memberikan keringanan hutang Kamerun: Pada 2001, China membatalkan US$ 34 juta dari utang, kemudian pada 2007 ia menghapus US$ 32 juta dan US$30 juta pada 2010.

Angka-angka itu sebenarnya kecil dibandingkan dengan Kanada yang menghapus US$227 juta pada 2006.

Namun, pada 2011 China benar-benar berkomitmen untuk Kamerun dengan menyetujui untuk membangun dan membiayai pelabuhan baru di kota nelayan Kribi. Tampaknya ini adalah tempat yang stabil untuk berinvestasi. Kamerun dianggap sebagai negara yang relatif damai di wilayah yang dilanda perang.

Aktivitas China di Kamerun tidak terbatas pada pelabuhan baru: Ia bertanggung jawab atas 90 persen pembangunan dan pemulihan jalan di negara itu pada 2014, dan perusahaan-perusahaan China telah membangun bendungan dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air di sana.

China juga mendapat manfaat dari perkembangan ini, dengan banyak kontrak masuk ke perusahaan-perusahaan mereka.


Keputusan China untuk memberikan bantuan utang kepada Kamerun juga datang di tengah kian memanasnya pertikaian antara komunitas penambangan emas tradisional negara itu dan perusahaan pertambangan China. Kamerun Timur kaya akan emas.

Justin Kamga, koordinator Asosiasi Pembangunan Hutan dan Pedesaan (FODER) di Yaounde, mengatakan perusahaan-perusahaan China mengoperasikan tambang ilegal di seluruh wilayah dan sedikit sekali menghormati tanah tersebut.

Sementara itu, pemerintah Kamerun tidak menanggapi permintaan komentar dari CNN.

Chris Roberts, Ilmuwan Politik di Universitas of Calgary menyebut penghapusan utang dilakukan lantaran China melihat visi geostrategis dan jangka panjang tentang pentingnya Kamerun di wilayah Afika.

Singkatnya, menurut dia, selama Cina membutuhkan pijakan maritim di Afrika Barat, beban utang Kamerun dapat diringankan untuk sementara waktu. (CNN/agi)