Animo Besar, Pemerintah Kerek Target Investasi dari Hong Kong

CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 09:54 WIB
Animo Besar, Pemerintah Kerek Target Investasi dari Hong Kong Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta).
Hong Kong, CNN Indonesia -- Indonesia menargetkan bisa mendongkrak investasi dari Hong Kong senilai US$2,3 miliar pada 2019, atau meningkat 15 persen dari realisasi tahun lalu yang hanya sebesar US$2 miliar.

"Mereka (investor Hong Kong) masih tertarik (investasi) karena faktor pengembalian investasi (return on investment) masih tinggi," Konsul Ekonomi Konsulat Jenderal Hong Kong (KJRI) Mandala Sukarto Purba kepada CNNIndonesia.com di kantor KJRI Hong Kong, Jumat (25/1) lalu.

Mandala mengungkapkan potensi investasi Hong Kong ke Indonesia cukup besar. Sejak 2016, porsi investasi Hong Kong ke Indonesia selalu bertengger di kelompok lima besar negara penanam modal asing terbesar di Indonesia.



Tren investasi Hong Kong ke Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, seiring dengan perbaikan iklim investasi di Indonesia. Namun, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pertumbuhan investasi Hong Kong ke Indonesia sepanjang tahun lalu merosot 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$2,1 miliar. Realisasi itu juga di bawah target KJRI Hong Kong yang berharap bisa mencapai US$2,2 miliar.

Perlambatan tren investasi global juga berimbas pada total investasi asing ke Indonesia yang merosot 8,8 persen menjadi Rp 392,7 triliun sepanjang 2018.

Indonesia bukan negara asing bagi pengusaha Hong Kong. Bahkan, lanjut Mandala, pemerintah Hong Kong memiliki Kantor Ekonomi dan Perdagangan khusus di Jakarta.


Investor Hong Kong, lanjut Mandala, tertarik untuk menanamkan modalnya terutama di sektor perumahan, perdagangan, dan pertambangan.

"Dua tahun ini, sektor-sektor yang menarik mereka tidak jauh berbeda," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Mandala, salah satu kendala yang dihadapi pengusaha saat ingin berinvestasi di Indonesia adalah masalah pembebasan lahan. Untuk itu, Mandala menyarankan jika ingin berinvestasi di Indonesia lahan sebaiknya sudah tersedia.


Selain itu, pengusaha juga bisa mendirikan usaha di kawasan industri atau ekonomi khusus yang menawarkan berbagai insentif. Setelah itu, dengan sistem Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (OSS), pengurusan izin di tingkat pemerintahan bisa berjalan cepat.

"Yang saya lihat, animo pengusaha Hong Kong belum berkurang, masih bersemangat," ujarnya.

Guna mencapai target investasi dari Hong Kong tahun ini, pemerintah telah menyiapkan strategi di antaranya menggelar forum investasi antar kedua negara dan ikut serta dalam pameran internasional yang diselenggarakan di Hong Kong.


Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi saling kunjung kelompok investor dalam rangka peningkatan investasi, serta menjalin komunikasi yang baik untuk mengatasi kendala di lapangan.

"Kelebihan orang Hong Kong itu, begitu dia (investor) percaya teman-temannya akan datang lagi," ujarnya. (sfr/lav)