Bambang Brodjonegoro Ingin Bekasi dkk Adopsi MRT Jakarta

CNN Indonesia | Sabtu, 02/02/2019 09:23 WIB
Bambang Brodjonegoro Ingin Bekasi dkk Adopsi MRT Jakarta Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro berharap kota-kota besar lainnya mengadopsi pembangunan MRT Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, Depok. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro berharap kota-kota besar lainnya di Indonesia ikut mengadopsi pembangunan moda raya terpadu berbasis rel listrik (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta.

Kota-kota yang perlu lebih dulu mengadopsi pembangunan MRT, ia menyebut Bekasi, Depok, Tangerang Selatan, Tangerang, dan Bogor. Setelah itu, lima kota besar lainnya juga bisa mencicipi moda transportasi yang menawarkan jarak tempuh 'hemat' ini.

"Setelah itu, seperti Surabaya, Medan, Bandung, Makassar, dan Semarang juga bisa. Ini perlu mendapatkan perhatian angkutan umum seperti ini," jelasnya di Depo MRT Jakarta di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Jumat (1/2).


Menurutnya, pembangunan moda transportasi seperti MRT perlu didorong di kota-kota besar lain di Tanah Air karena bisa berdampak positif pada perekonomian masyarakat. Masyarakat, katanya, tidak perlu lagi membuang-buang waktu dan biaya besar untuk bisa menempuh perjalanan kerja hingga rekreasi.

"Nantinya kegiatan masyarakat akan dimudahkan dengan angkutan umum ini. Bahkan, kalau dilihat nanti akan berdampak sangat positif kepada ekonomi," imbuh Bambang.

Untuk bisa membangun MRT, Bambang menilai para pemerintah daerah bisa menggunakan sumber pembiayaan yang telah dilakukan MRT Jakarta, yaitu pinjaman dari Jepang dengan kerja sama Badan Kerjasama Internasional Jepang (Japan Internasional Cooperation Agency/JICA).


Selain pinjaman, pembangunan MRT juga bisa dilakukan dengan skema Kerja Sama Badan Usaha dan Pemerintah (KPBU). Pilihan terakhir bisa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Karena angkutan umum di wilayah padat, seperti Jakarta dan kota besar memiliki kemampuan untuk feasible secara bisnis dan ekonomi. Jadi, sebenarnya tidak harus 100 persen APBN atau APBD," terangnya.

Saat ini, MRT Jakarta tengah memasuki tahap uji coba. Rencananya, moda transportasi massal ini akan beroperasi terbatas pada Maret 2019 dan efektif pada April 2019. Operasi itu berlaku untuk MRT Jakarta fase satu yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus hingga Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI).


Ketika sudah beroperasi nanti, MRT Jakarta akan melayani masyarakat sejak pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB. MRT Jakarta bakal melaju dengan kecepatan sekitar 80 kilometer (km) per jam ketika kereta berada di jalur bawah tanah dan sekitar 50-60 km per jam ketika berada di jalur layang.

Sementara, tarif perjalanan diperkirakan sekitar Rp8.500 per 10 km. Namun, besaran tarif resmi baru akan diumumkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada bulan ini.


(uli/bir)