Kinerja Manufaktur Besar Melambat Diterpa Perang Dagang

CNN Indonesia | Sabtu, 02/02/2019 06:05 WIB
Kinerja Manufaktur Besar Melambat Diterpa Perang Dagang BPS mencatat laju pertumbuhan produksi Industri Besar dan Sedang sebesar 4,07 persen sepanjang 2018 silam, melemah dibanding tahun 2017 sebesar 4,74 persen. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan produksi Industri Besar dan Sedang (IBS) sebesar 4,07 persen sepanjang 2018 silam, melemah dibanding tahun 2017 sebesar 4,74 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pertumbuhan IBS ini merupakan angka IBS terlemah kedua dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya, pertumbuhan produksi manufaktur sedang dan besar pernah mencatat angka yang lebih buruk, yakni 4,01 persen pada 2016 kemarin.

"Secara year-on-year (secara tahunan) memang ini melambat dibandingkan tahun kemarin, sehingga pemerintah perlu memperhatikan angka ini," jelas Suhariyanto di Gedung BPS, Jumat (1/2).


Namun, menurut dia, kondisi ini terjadi karena 2018 adalah tahun yang berat bagi industri manufaktur. Banyak sentimen ekstenal yang mempengaruhi tindak tanduk produksi pelaku industri manufaktur.


Ia mencontohkan perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang sampai saat ini belum menemui titik temu. Selain itu, beberapa mitra utama ekspor Indonesia juga tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat.

China, contohnya, mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 persen di tahun lalu, di mana angka ini adalah angka terendah dalam 28 tahun terakhir. Apalagi, porsi ekspor non-migas Indonesia ke China sepanjang tahun lalu mencapai US$24,39 miliar, atau 15 persen dari total ekspor non-migas dengan nilai US$162,65 miliar.

"Selain itu, di tahun lalu Indonesia juga terpapar menurunnya harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil), di mana CPO sendiri merupakan bagian dari industri pengolahan juga," jelasnya.

Secara rinci, ia menjelaskan bahwa industri kulit, barang kulit dan alas kaki mengalami pertumbuhan produksi tertinggi yakni 18,78 persen secara tahunan. Disusul oleh industri karet, barang karet, dan plastik mengalami pertumbuhan produksi 11,29 persen.


Meski demikian, terdapat pula sektor industri yang mengalami pelemahan seperti industri komputer, barang elektronik, dan optik yang anjlok 15,06 persen serta industri bahan kimia yang produksinya juga turun 4,95 persen.

Kendati demikian, produksi manufaktur masih didominasi oleh industri makanan dan minuman dengan porsi 25,41 persen dari seluruh total produksi IBS. Adapun, pertumbuhan industri makanan dan minuman tahun lalu mencapai 7,4 persen.

Oleh karenanya, industri makanan dan minuman disebut sebagai tulang punggung IBS. Sehingga, Suhariyanto meminta pemerintah untuk fokus menjaga daya beli agar lesunya pertumbuhan industri makanan dan minuman tidak merembet ke kinerja industri besar dan sedang secara keseluruhan.

"Apalagi sebetulnya, angka pertumbuhan industri makanan minuman sebesar 7,4 persen ini tidak berada dalam target yang ditetapkan pelaku usaha yakni 8 persen hingga 9 persen. Harapannya, industri makanan dan minuman tahun ini bisa bertumbuh, karena share-nya ini paling besar," tutur dia.

(glh/lav)