Pertumbuhan Investasi Melempem, Sri Mulyani Salahkan Global

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 15:23 WIB
Pertumbuhan Investasi Melempem, Sri Mulyani Salahkan Global Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pelambatan pertumbuhan investasi disebabkan oleh gejolak ekonomi global. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai melambatnya pertumbuhan investasi pada 2018 tak lepas dari gejolak yang terjadi pada perekonomian global sepanjang tahun kemarin. Gejolak mempengaruhi sentimen investor sehingga berimbas pada keluarnya aliran modal (capital outflow) baik yang berbentuk investasi asing langsung (FDI) jangka panjang maupun jangka pendek di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

"Keseluruhan negara di dunia juga menghadapi aliran modal keluar. Ini tentu ada dampaknya pada FDI dan investasi jangka pendek. Banyak investor tentu akan melakukan penilaian kembali terhadap kondisi perekonomian suatu negara sebelum memutuskan untuk investasi," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Kamis (31/1).


Badan Koordinasi penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang tahun lalu sebesar Rp721,3 triliun. Realisasi investasi tersebut hanya tumbuh 4,1 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya, Rp692,8 triliun, yang masih bisa tumbuh 13 persen.


Jika dirinci, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat Rp324,8 triliun atau tumbuh 25,3 persen dibanding tahun sebelumnya Rp262,3 triliun. Namun, Penanaman Modal Asing (PMA) anjlok 8,8 persen dari Rp430,5 triliun ke Rp392,7 triliun.

Sebenarnya, lanjut Sri Mulyani, selama November-Desember 2018, mulai terjadi normalisasi aliran investasi masuk ke Indonesia. Selain itu, investasi dalam negeri juga masih baik.


Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit tahun lalu yang di atas 11 persen dan juga dari kemampuan pendanaan pasar modal dan obligasi untuk membiayai belanja modal sektor swasta.

"Kami akan menjaga momentum (kenaikan investasi) ini supaya tetap terjadi di 2019 dengan lebih baik," ujarnya.

Untuk mencapai target investasi yang terus dikerek, Sri Mulyani mengungkapkan pemerintah akan menggunakan berbagai instrumen. BKPM menargetkan pada 2019 ini realisasi investasi bisa tembus Rp792, 3 triliun atau tumbuh sekitar 9,8 persen dibandingkan realisasi tahun lalu.
Instrumen tersebut bisa berupa insentif pajak seperti berupa penghapusan pajak penghasilan (tax holiday) dan keringanan pajak (tax allowance) yang diberikan pemerintah dengan persyaratan tertentu. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), lanjut Sri Mulyani, juga mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia.

Hal itu dapat meningkatkan iklim investasi di Indonesia."Selain itu, juga kemudahan dari sisi ekspor-impor barang dalam rangka mereka mampu untuk menjaga momentum investasinya," ujar Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.
(sfr/agt)