Asosiasi Sebut Ritel Tutup Tak Otomatis PHK Karyawan

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 12:03 WIB
Asosiasi Sebut Ritel Tutup Tak Otomatis PHK Karyawan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebut penutupan beberapa gerai ritel tidak otomatis dibarengi dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Pihak perusahaan biasanya memutasi karyawan ke cabang maupun lini bisnis lainnya.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan sangat jarang perusahaan yang langsung melakukan PHK usai penutupan gerai. Tutum mengaku tidak mengantongi data PHK karyawan oleh perusahaan ritel.

"Kalau PHK biasanya jarang, hampir tidak ada. Kalau toko tadi tutup, mereka biasanya akan dipindah di cabang yang cukup jauh dari lokasi tempat tinggal mereka," kata Tutum di Diskusi Pas FM, Rabu (30/1).



Tutum melanjutkan perusahaan biasanya akan mempertahankan karyawan yang memiliki kinerja bagus. Mereka juga akan mendapatkan fasilitas biaya tambahan jika dipindahkan ke kantor baru.
"Memang dia pasti akan dipindah jauh, tapi perusahaan juga pasti mengeluarkan biaya lebih untuk biaya transportasi atau tempat tinggalnya," katanya.

Untuk diketahui, beberapa perusahaan ritel memutuskan untuk menutup gerainya yang kinerjanya menurun. Sebut saja, PT Central Retail Indonesia terpaksa menutup toko ritel Central di Neo Soho yang berlaku efektif 18 Februari 2019 mendatang.


Lalu PT Tozy Sentosa, pengelola Centro Department Store mengaku telah menutup gerainya di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan sejak 31 Desember 2018.

Tahun lalu, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menutup dua gerainya di kawasan Blok M dan Manggarai. Kemudian, diikuti penutupan gerai Lotus dan Debenhams oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Adapula PT Modern Internasional Tbk yang menutup semua gerai 7-Eleven di bawah pengelolaannya pada 30 Juni 2017. (ulf/lav)