Tak Impor, Bulog Malah Diminta Serap Panen Jagung Lokal

CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 08:58 WIB
Tak Impor, Bulog Malah Diminta Serap Panen Jagung Lokal Perum Bulog mengaku tak akan mengimpor jagung dalam waktu dekat karena khawatir berbenturan dengan waktu panen. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) mengaku tak akan mengimpor jagung dalam waktu dekat karena khawatir berbenturan dengan waktu panen petani lokal yang diperkirakan berlangsung Februari 2019.

Sebelumnya, Bulog memperoleh izin impor sebanyak 30 ribu ton jagung yang merupakan keputusan hasil rapat koordinasi di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan pihaknya tak ingin produk mengganggu penyerapan hasil panen yang akhirnya merusak harga jagung. Terlebih, lanjut dia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti agar Bulog siap menyerap jagung hasil panen.


Alih-alih impor, pria yang dikenal dengan panggilan Buwas itu mengatakan pihaknya justru mengalokasikan anggaran khusus untuk menyerap hasil panen jagung petani lokal sebanyak-banyaknya. Jagung hasil panen petani akan dibeli Bulog setidaknya dengan harga Rp3.150 per kilogram (kg).


Menurut dia, harga tersebut sudah cukup ideal karena mengikuti ketentuan yang berlaku. Patokan harga dianggap sudah sesuai dengan aturan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Di sisi lain, harga jagung pakan yang harus dibayar peternak ada di kisaran Rp5.800-6.000 per kg, atau jauh lebih rendah dibanding harga pembelian Bulog.

"Kami pedoman tetap pada HPP Rp3.150 per kg untuk beli jagung. Kalau di atas itu, ya berarti petani diuntungkan. Ya tidak apa sebenarnya, ini kan untuk menjaga buffer stock dan tugas kami memang stabilitas harga," ucap Buwas di Istana Negara, Kamis (24/1)

Per 24 Januari 2019, Buwas menyatakan sudah ada beberapa titik produksi yang memberi hasil panen. Misalnya, di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Namun, ia enggan menyebut volume produksi dari sentra itu.


Buwas mengaku belum memiliki estimasi hasil panen sampai saat ini. Pihaknya masih perlu waktu untuk mengukur potensi panen jagung petani dari pemetaan titik-titik produksi di seluruh Indonesia. Nantinya, estimasi hasil panen akan menjadi pertimbangan untuk melakukan impor.

"Surat memang sudah ada di tangan kami, namun kami masih lihat dulu perkembangannya. Makanya, saya selalu koordinasi dengan Menteri Pertanian," ujar Buwas. (uli/lav)