Harga Jagung Masih Mahal, Kementan Sebut karena Panen Mundur

CNN Indonesia | Rabu, 23/01/2019 11:10 WIB
Harga Jagung Masih Mahal, Kementan Sebut karena Panen Mundur Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertanian mengklaim harga jagung yang mahal di beberapa daerah disebabkan mundurnya masa puncak panen jagung pakan ternak, dari yang seharusnya terjadi pada Januari bergeser menjadi Februari - Maret 2019.

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Sri Widayati mengungkapkan beberapa daerah sentra jagung baru mulai masa panen. Misalnya di daerah Probolinggo, Garut, Sukabumi, dan Tasikmalaya.

"Saya pikir karena baru mulai panen. Jadi agak mundur biasanya Januari sudah banyak lalu puncak panen Februari ," kata Widayati kepada CNNIndonesia.com.


Guna menjaga harga jagung agar tidak anjlok ketika panen raya, Kementerian Pertanian meminta Perum Bulog untuk menyerap seluruh jagung petani.


"Jadi petani dan peternak nyaman dengan harga jagung," katanya.

Selain masa puncak panen jagung yang mundur, harga jagung yang belum stabil juga disebabkan distribusi jagung impor yang tidak sepenuhnya diterima peternak, terutama peternak skala menengah.

Dari total impor jagung sebanyak 100 ribu ton, baru 73 ribu yang didistribusikan kepada peternak. Sedangkan sisanya, sebanyak 27 ribu ton meskipun sudah masuk ke Indonesia tapi belum sampai ke peternak. Sedangkan untuk tambahan impor jagung sebanyak 30 ribu ton dipastikan masuk pada Februari 2019.

Widayati mengatakan guna memastikan jagung impor sampai kepada peternak kecil, Kementerian Pertanian melakukan pengawasan melalui dinas setempat dan satuan tugas (satgas) pangan.


"Jadi perlu rekomendasi dari dinas setempat bahwa betul peternak kecil yang meminta jagung impor. Lalu disertai satgas pangan pusat dan daerah," imbuhnya.

Ia pun meyakini harga jagung bisa kembali stabil jika panen raya berlangsung, juga komoditas jagung impor yang mulai masuk.

"Sepanjang distribusi oke, produksi oke, barang ada, distribusi lancar, saya pikir harga bisa kembali (normal)," tuturnya.

Sebelumnya, Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengeluhkan harga jagung yang masih tinggi meski pemerintah sudah membuka keran impor sebanyak 100 ribu ton. Sudirman mengatakan harga jagung disebut masih berada di atas Rp5.000 per kilogram (kg).

(ulf/lav)