TOP TALKS

Dulu Anak TKI, Kini Hanif Dhakiri Jadi Menaker

Lavinda & Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 18/01/2019 09:40 WIB
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada yang mampu menduga jalur hidup yang dilalui seseorang. Begitu pula halnya Muhammad Hanif Dhakiri. Siapa sangka, terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai pekerja migran informal alias TKI, kini ia menduduki kursi tertinggi para pekerja, sebagai Menteri Ketenagakerjaan periode 2014-2019.

Menurut pria kelahiran Semarang, 6 Juni 1972 ini, pengalaman sang ibu membuat Hanif memiliki keterikatan secara langsung dengan dunia para pekerja, khususnya pekerja migran. Pada akhirnya, dunia pekerja masuk ke ranah batin, bukan semata soal kebutuhan.

"Latar belakang keluarga saya biasa-biasa saja. Tentu itu juga membantu saya tumbuh jadi pribadi yang mau bekerja keras, dan menerima apapun keadaannya yang kita jalani sekarang ini," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

[Gambas:Video CNN]


Peran keluarga juga membentuk karakter Hanif menjadi pribadi yang kokoh. Anak dari pasangan Zuhri Maksum dan Siti Hafsoh menilai keteguhan menjadi hal yang penting, khususnya ketika dirinya menjalani pekerjaan sebagai menteri saat ini.

Saat menjadi mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Wali Songo, Jawa Tengah, Hanif mengisi masa mudanya dengan menjadi aktivis di berbagai organisasi.

Puncaknya, Hanif mengasah jiwa kepemimpinannya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).


Pada awal Reformasi, Hanif terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selanjutnya pada 2010, ia didapuk menjadi Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PKB, dan berlanjut menjadi Sekjen PKB periode 2014-2019.

Karier politiknya bergulir cemerlang. Hanif terpilih menjadi Anggota DPR RI periode 2009-2014, dan terpilih kembali para periode 2014-2019.

Pengalaman keluarganya membuat Hanif bertekad memperbaiki kehidupan para pekerja migran, terutama kelompok masyarakat yang secara ekonomi relatif rentan.


"Keinginan saya, pekerja migran tidak lagi melahirkan pekerja migran. Dalam kasus ibu saya, ibu saya pekerja migran melahirkan menteri. Saya ingin semua juga begitu, melahirkan gubernur, dokter, presiden," ungkapnya.

Hanif mengaku menerapkan pola didik yang sama seperti ajaran sang orang tua. Dalam arti, dirinya tak memanjakan ketiga anaknya dengan memenuhi segala keinginan mereka. Ia ingin anak-anaknya keras terhadap dirinya sendiri, sehingga terbiasa menghadapi kehidupan yang lebih keras di dunia nyata.


Bersambung ke halaman berikutnya... (bir)
1 dari 2